Sebenarnya aku ini suka menulis, tapi mungkin bukan menulis dalam bentuk karangan panjang yang membutuhkan ribuan kata atau bahkan kalimat, kemampuan menulisku sebatas karangan-karangan pendek dan puisi.
Sejak duduk di SD aku sudah bisa mengarang puisi dan cukup pandai jika diminta membuat pantun. Aku ingat ada sebuah puisi berjudul "Ayah" yang sempat aku buat (tapi aku tidak ingat lagi isi puisi itu sekarang) dan sempat juga aku bacakan sendiri di hadapan teman-teman Sekolah Mingguku, sebuah puisi yang membuatku menangis, sebuah puisi yang mencerminkan isi hatiku yang rindu kehangatan seorang ayah, sesuatu yang tidak aku rasakan saat itu.
Menulis adalah terapi jiwa bagiku, melalui menulis aku menemukan sedikit kelegaan, sedikit pengurang beban di hati, tapi terapi ini sayangnya tidak berefek sama sekali untuk yang satu ini,
Sebagai manusia aku sangat menyadari siapa diriku. Aku cukup tahu apa yang menjadi kelemahanku, semua penyakit hati yang ada pada dirku, di antara banyak penyakit hati yang aku idap, kecemasan adalah penyakit hatiku yang terbesar, di dalam banyak hal aku mudah menjadi cemas. Sedikit masalah sudah bisa membuatku cemas, dan parahnya kecemasan itu tidak akan berakhir sebelum masalah itu selesai. Satu masalah selesai masalah lain muncul, akibatnya aku pun bisa dibilang selalu dalam kecemasan.
Walau tahu kecemasan adalah suatu yang bodoh dan sia-sia herannya aku masih saja dijerat kecemasan, sangat sulit bagiku berjuang memerangi penyakit hati yang satu ini, saat kecemasan datang aku menyadarinya tapi tidak berdaya untuk mengusirnya pergi.
Tapi aku sadar aku memang harus memerangi penyakit ini, jika tidak selamanya hidupku jauh dari ketenangan.
Rabu, 04 November 2009
Jumat, 28 Agustus 2009
Mama darimu aku belajar banyak
Aku merasa kisah hidup Mama yang begitu penuh warna sepantasnya jika dicatat dalam sebuah biografi. Kebahagiaan masa kecil yang hampir tidak ia miliki, disambung dengan kehidupan remaja yang penuh kesulitan hingga kehidupan perkawinan yang jauh dari ideal, semua ia hadapi dengan sikap yang luar biasa.
Dipisahkan dari orang tua kandung oleh kakak kandungnya sendiri sejak masih bayi, di usia belia hidup susah sebagai seorang anak angkat yatim yang harus putus sekolah (Mama hanya sempat sekolah sampai SMP kelas 1 itupun tidak selesai), sehingga sudah harus bekerja untuk menghidupi diri sendiri, seorang Ibu angkat dan seorang adik angkat, tapi masih saja sering diperlakukan buruk oleh Ibu angkatnya,
Tapi ketabahan dan kesabaran Mamaku sungguh luar biasa,
Mama sama sekali tak menyimpan kemarahan apalagi dendam kepada kakak-kakak kandungnya juga kepada Ibu angkatnya, bahkan saat Ibu angkatnya sakit parah hingga akhirnya meninggal dunia, Mamalah yang dengan sabar merawat Ibu angkatnya itu dan setelah ibu angkatnya meninggal Mama tetap menerima dan merawat adik angkatnya, juga saat adik angkat Mama terjerumus narkoba Mama masih tetap menerima dan berusaha menolong adik angkatnya itu, padahal kelakuan adik angkat Mama waktu itu sangat menyusahkan sekali, (waktu itu aku sudah SMP jadi aku tahu betul bagaimana kacaunya situasi rumah kami akibat ulah Adik Angkat Mama)
Kehidupan perkawinan Mamapun tidak bisa dibilang membahagiakan, bercerai di usia muda dan kehilangan seorang anak di pernikahan pertamanya, lalu menjadi isteri kedua dalam pernikahan keduanya, tentu saja membuat Mama harus menanggung kesan buruk sebagai isteri kedua di mata masyarakat (walaupun pada kenyataannya Mama bukan isteri kedua yang tidak tahu diri), selama menikah dengan Mama bagaimanapun Papa lebih banyak menghabiskan waktu di luar kerjanya di rumah isteri pertama bahkan nyaris tidak pernah menginap di rumah kami, kecuali beberapa kali setelah Papa sakit parah sebelum akhirnya meninggal dunia, begitu juga secara materi kami jauh dari berkelimpahan bahkan cenderung hidup sangat sederhana.
Tapi Mama dengan sabarnya Mama menghadapi semua itu termasuk bersabar menghadapi rasa tidak suka dan prasangka buruk dari berbagai pihak, bahkan Mama meminta kami anak-anaknya menghormati Isteri pertama Papa dan juga kepada kakak-kakak lain Ibu.
Terhadap Kakak kandungnya pun Mama tidak marah atau menuntut apa-apa, ia merelakan apa yang sudah mereka lakukan terhadap dirinya sebagai bagian dari nasibnya.
Sekarang di hari tuanya aku berharap ini masa bagi Mama untuk lebih berbahagia dibandingkan Masa-masa lain dalam hidupnya, walaupun aku tahu sebagai manusia tak mungkin lepas dari penderitaan.
Dari kisah hidup Mama aku belajar tentang kesabaran, kasih dan pengampunan yang begitu luar biasa. Bagiku di atas semua kekurangannya Mama adalah teladan bagi kami anak-anaknya.
Dipisahkan dari orang tua kandung oleh kakak kandungnya sendiri sejak masih bayi, di usia belia hidup susah sebagai seorang anak angkat yatim yang harus putus sekolah (Mama hanya sempat sekolah sampai SMP kelas 1 itupun tidak selesai), sehingga sudah harus bekerja untuk menghidupi diri sendiri, seorang Ibu angkat dan seorang adik angkat, tapi masih saja sering diperlakukan buruk oleh Ibu angkatnya,
Tapi ketabahan dan kesabaran Mamaku sungguh luar biasa,
Mama sama sekali tak menyimpan kemarahan apalagi dendam kepada kakak-kakak kandungnya juga kepada Ibu angkatnya, bahkan saat Ibu angkatnya sakit parah hingga akhirnya meninggal dunia, Mamalah yang dengan sabar merawat Ibu angkatnya itu dan setelah ibu angkatnya meninggal Mama tetap menerima dan merawat adik angkatnya, juga saat adik angkat Mama terjerumus narkoba Mama masih tetap menerima dan berusaha menolong adik angkatnya itu, padahal kelakuan adik angkat Mama waktu itu sangat menyusahkan sekali, (waktu itu aku sudah SMP jadi aku tahu betul bagaimana kacaunya situasi rumah kami akibat ulah Adik Angkat Mama)
Kehidupan perkawinan Mamapun tidak bisa dibilang membahagiakan, bercerai di usia muda dan kehilangan seorang anak di pernikahan pertamanya, lalu menjadi isteri kedua dalam pernikahan keduanya, tentu saja membuat Mama harus menanggung kesan buruk sebagai isteri kedua di mata masyarakat (walaupun pada kenyataannya Mama bukan isteri kedua yang tidak tahu diri), selama menikah dengan Mama bagaimanapun Papa lebih banyak menghabiskan waktu di luar kerjanya di rumah isteri pertama bahkan nyaris tidak pernah menginap di rumah kami, kecuali beberapa kali setelah Papa sakit parah sebelum akhirnya meninggal dunia, begitu juga secara materi kami jauh dari berkelimpahan bahkan cenderung hidup sangat sederhana.
Tapi Mama dengan sabarnya Mama menghadapi semua itu termasuk bersabar menghadapi rasa tidak suka dan prasangka buruk dari berbagai pihak, bahkan Mama meminta kami anak-anaknya menghormati Isteri pertama Papa dan juga kepada kakak-kakak lain Ibu.
Terhadap Kakak kandungnya pun Mama tidak marah atau menuntut apa-apa, ia merelakan apa yang sudah mereka lakukan terhadap dirinya sebagai bagian dari nasibnya.
Sekarang di hari tuanya aku berharap ini masa bagi Mama untuk lebih berbahagia dibandingkan Masa-masa lain dalam hidupnya, walaupun aku tahu sebagai manusia tak mungkin lepas dari penderitaan.
Dari kisah hidup Mama aku belajar tentang kesabaran, kasih dan pengampunan yang begitu luar biasa. Bagiku di atas semua kekurangannya Mama adalah teladan bagi kami anak-anaknya.
Rabu, 26 Agustus 2009
Memimpikan pemimpin yang bijaksana

Aku penah membaca sebuah buku tentang ciri-ciri seorang pemimpin sejati, seorang pemimpin yang bijaksana, salah satu ciri seorang pemimpin sejati yang paling kuingat dalam buku itu adalah yang menyebutkan bahwa seorang pemimpin sejati tidak terlihat sebagai seorang pemimpin, ia orang rendah hati yang tidak pernah menonjolkan diri, bahkan orang lain sering tak menyadari kepemimpinan si pemimpin bijaksana itu. Dia bukan si penguasa, tapi dialah si pembawa aura kedamaian dan keharmonisan, dialah "cahaya" dalam kehidupan orang-orang disekelilingnya.
Selama belasan tahun aku bermimpi menemukan pemimpin sejati seperti itu, dan mimpi itu masih tetap jadi mimpi hingga hari ini. Begitu langkakah keberadaan seorang pemimpin sejati seperti langkanya menemukan orang yang telah "tercerahkan", ataukah siapa aku juga yang menyebabkan diriku belum bisa menemukan "manusia-manusia" istimewa itu. Dapat diumpamakan seperti tidak mungkin seekor ikan menemukan sang raja hutan di dalam sebuah lautan.
Atau bisa juga karena aku mematok standar yang terlalu berlebihan dalam mencari seorang pemimpin, atau mungkinkah ini semata karena jauh di lubuk hatiku ada kesombongan halus yang menilai diriku lebih dari orang lain, mungkin aku harus mencari tahu dulu jawabannya dalam diriku sendiri, sebelum aku mencarinya pada diri orang lain.
Sepatutnya aku menyadari bahkan aku sendiri masih harus banyak belajar bahkan hanya untuk sekedar menjadi seorang Ibu yang lebih bijaksana.
Sabtu, 25 Juli 2009
Pelajaran di balik peristiwa
Kematian seorang rekan yang begitu mendadak belum lama ini memberiku beberapa pelajaran berharga, pertama aku merasa sebagian besar manusia tidak menyadari saat kematian tiba, mungkin ada beberapa manusia yang sadar bahwa kematian sudah begitu dekat dengan dirinya, tapi itupun rasanya terjadi hanya karena mereka telah menderita suatu penyakit berat sebelumnya.
Banyak manusia takut akan hari akhir, tanpa menyadari bahwa sebenarnya maut itu sendiri kerap datang tanpa disadari, sehingga bahkan besar kemungkinan kita sendiri tidak sempat untuk merasa takut saat maut itu datang pada kita.
Kedua semasa hidup mungkin banyak hal yang coba kita sembunyikan dari orang lain atau bahkan keluarga kita sendiri, tetapi saat ajal datang tiba tiba, tentu saja ia datang tanpa peringatan terlebih dahulu, sebagian dari rahasia itu memang lenyap bersama kematian, tetapi siapa duga jika banyak juga hal lain yang sewaktu hidup kita coba sembunyikan, saat kita mati malah menjadi terbuka jelas dan menunjukkan siapa diri kita sebenarnya.
Ketiga kematian selalu mendatangkan rasa duka, tapi sebagaimana kehidupan yang selalu berubah begitu juga rasa duka akan kematian, cepat atau lambat rasa duka itu akan hilang berubah menjadi sebuah kenangan, seperti juga dengan realita dimana disini kita berduka, sementara di tempat berbeda orang lain sedang berbahagia. Kematian mengakhiri kehidupan seseorang di dunia ini, tapi bagi mereka yang masih hidup, hidup akan terus berlanjut.
Keempat tentulah sebagai penghormatan pada almarhum, orang hanya membicarakan dan mengingat hal-hal baik tentang almarhum, tapi tak bisa dipungkiri bahwa jauh di dalam lubuk hati masing-masing, tersimpan penilaian seseorang yang sebenarnya tentang si almarhum.
Untuk itu haruskah kita masih saja kuatir dan takut akan kematian, bagiku sendiri mungkin bukan kematian yang menakutkan, tetapi proses yang akan aku alami sebelum menuju kematian yang aku kuatirkan dan bagaimana nilai akhir diriku dimata orang-orang yang pernah mengenal diriku, baik atau buruk? Untuk itulah aku berpikir aku harus meneguhkan kembali tekad di hati untuk selalu berupaya melakukan yang terbaik setiap hari, selama aku masih ada berada di dunia ini.
Banyak manusia takut akan hari akhir, tanpa menyadari bahwa sebenarnya maut itu sendiri kerap datang tanpa disadari, sehingga bahkan besar kemungkinan kita sendiri tidak sempat untuk merasa takut saat maut itu datang pada kita.
Kedua semasa hidup mungkin banyak hal yang coba kita sembunyikan dari orang lain atau bahkan keluarga kita sendiri, tetapi saat ajal datang tiba tiba, tentu saja ia datang tanpa peringatan terlebih dahulu, sebagian dari rahasia itu memang lenyap bersama kematian, tetapi siapa duga jika banyak juga hal lain yang sewaktu hidup kita coba sembunyikan, saat kita mati malah menjadi terbuka jelas dan menunjukkan siapa diri kita sebenarnya.
Ketiga kematian selalu mendatangkan rasa duka, tapi sebagaimana kehidupan yang selalu berubah begitu juga rasa duka akan kematian, cepat atau lambat rasa duka itu akan hilang berubah menjadi sebuah kenangan, seperti juga dengan realita dimana disini kita berduka, sementara di tempat berbeda orang lain sedang berbahagia. Kematian mengakhiri kehidupan seseorang di dunia ini, tapi bagi mereka yang masih hidup, hidup akan terus berlanjut.
Keempat tentulah sebagai penghormatan pada almarhum, orang hanya membicarakan dan mengingat hal-hal baik tentang almarhum, tapi tak bisa dipungkiri bahwa jauh di dalam lubuk hati masing-masing, tersimpan penilaian seseorang yang sebenarnya tentang si almarhum.
Untuk itu haruskah kita masih saja kuatir dan takut akan kematian, bagiku sendiri mungkin bukan kematian yang menakutkan, tetapi proses yang akan aku alami sebelum menuju kematian yang aku kuatirkan dan bagaimana nilai akhir diriku dimata orang-orang yang pernah mengenal diriku, baik atau buruk? Untuk itulah aku berpikir aku harus meneguhkan kembali tekad di hati untuk selalu berupaya melakukan yang terbaik setiap hari, selama aku masih ada berada di dunia ini.
Selasa, 21 Juli 2009
Selamat Jalan Pak....

17 Juli 2009 sebuah bom meledak di Hotel Ritzs Carlton dan sebuah lagi di Hotel JV Marriot Mega Kuningan Jakarta, tak hanya meluluh lantakkan bangunan kedua hotel itu, tapi bom itu juga ikut meluluh lantakkan hati banyak orang yang kehilangan anggota keluarganya yang meninggal akibat bom tersebut, sepanjang hari itu berita seputar kejadian itu menjadi tema berita di semua stasiun tv, bahkan beberapa teman di kantorku ikut menyempatkan diri melihat berita itu di tv kantor, di antara adalah Pak Manahan Simatupang beliau HRD & GA Manager di kantorku. Tiada yang menyangka bahwa di hari itu juga sebuah bom yang lain akan meluluhlantakkan hati sebagian besar keluaga besar kantorku, hari itu sore menjelang malam kami kehilangan seorang rekan, Pak Manahan Simatupang, kematiannya yang begitu mendadak dan diluar perkiraan mengagetkan kami semua, padahal hari itu beliau terlihat begitu sehat dan ceria, siapa menyangka hari itu hari terakhir kami bertemu beliau, ia meninggal di usia yang masih relatif muda 46 tahun (beberapa hari lagi adalah HUTnya ke 46) dengan dua putri yang masih duduk di kelas 1,3 SD, jika kepergiannya sebagai seorang teman kerja sanggup membuat kami semua merasakan kesedihan yang mendalam, tak terbayang olehku betapa berat kepedihan dan rasa kehilangan yang dialami keluarganya, terutama Isteri dan Anaknya, apalagi isterinya hanya seorang Ibu Rumah Tangga.
Sebagai rekan kerja tentu saja hubungan kerjaku dengan beliau tidak selalu mulus, kadang ada sedikit perselisihan paham di antara kami, tapi syukurlah aku dan beliau bisa saling mengerti walaupun kami berselisih paham karena urusan pekerjaan, tapi secara pribadi hubungan kami berdua tetap terjalin dengan cukup baik, walau tidak juga terlalu dekat, aku dan beliau sering saling mengoda, aku pun kadang meminta advisenya atas suatu masalah.
Kini beliau tidak mungkin bisa bersama kami lagi, aku hanya bisa berdoa semoga beliau berbahagia di rumah barunya, semoga Isterinya diberi kekuatan dan rejeki baru untuk menjalani hidup tanpa kehadiran beliau.
Jika saja aku tahu hari itu hari terakhir beliau tentu aku akan melakukan hal terbaik yang bisa aku lakukan untuk beliau, tapi sayang sekali tak seorang manusiapun tahu tentang ajal, sungguh hidup adalah ketidak pastian hanya kematian yang pasti.
Pak Manahan selamat jalan, berbahagialah di kehidupan barumu, semoga jika karma mempertemukan kita kembali di kehidupan berikut hubungan kita berdua bisa lebih baik dari sekarang.
Semua kejadian ini, membuatku berpikir sebaiknya kita memang harus berbuat sebaik mungkin sepanjang hari, agar jika saat itu tiba tiada penyesalan baik untuk yang ditinggal maupun yang ditinggalkan.
Senin, 15 Juni 2009
Bila aku bahagia

Ada sebuah lagu yang sangat terkesan di hatiku,
Lama t'lah ku mencari,
berkelana kian kemari
dimana gerangan dikau duhai bahagia
aku bersukaria bertamasya ke taman sari
bahagia sekejap mata hanya bagai mimpi
aku mohon para dewa-dewi
masuk ke candi menjunjung jari
tetapi hanyalah hampa
surga tak dapat dibeli
sekarang ku mengerti
bahagia di dalam hati
dimana sang napsu lenyap
disana bahagia..
akupun sering bertanya bila aku bahagia, apa arti kebahagian buatku...?
Moment-moment penting dalam hidup seperti menikah, menjadi seorang ibu, bercengkrama bersama keluarga, mungkin membahagiakan, tapi aku merasa bukan sebatas itu kebahagiaan yang kudamba, aku haus kebahagian yang lebih personal, yang lebih dekat dengan diriku sendiri, kebahagian mutlak tanpa pengaruh keberadaaan pihak luar.
Hingga pada suatu titik aku menyadari kebahagian yang aku damba itu begitu sederhana, namun sayangnya sangat sulit kudapatkan, ritual hidup keseharian yang
padat kesibukan membuat aku kehilangan waktu untuk meraih kebahagiaan itu, mengapa ?
Karena Bahagia yang kucari itu ternyata bukan kesenangan penuh tawa, bukan rasa hati yang mengelora, bukan juga kepuasan yang membuncah, kebahagiaan ku ada dalam kedamaian jiwa, kedamaian jiwa dalam kesendirian, keheningan, saat diriku menyatu dengan alam, menyatu dengan diriku sendiri, tidak berpikir, tidak menganalisa, yang ada hanya diam, hanya hening dalam diri, selaras dengan keheningan alam.
Itulah sesungguhnya kebahagian yang selalu kurindu, kedamaian jiwa yang hingga hari ini masih sulit kuraih.
Minggu, 14 Juni 2009
Di saat daku tua...

Di tulis ulang dari sebuah booklet, semoga selalu mengingatkanku..
Disaat Daku Tua ...
Disaat daku tua, bukan lagi diriku yang dulu.
Maklumilah diriku, bersabarlah dalam menghadapiku.
Disaat daku menumpahkan kuah sayuran di bajuku,
Disaat daku tidak lagi mengingat cara mengikatkan tali sepatu,
Ingatlah saat-saat bagaimana daku mengajarimu, membimbingmu untuk melakukannya.
Disaat saya dengan pikunnya mengulang terus menerus ucapan yang membosankanmu,
Bersabarlah mendengarkanku, jangan memotong ucapanku,
Dimasa kecilmu, Daku harus mengulang dan mengulang terus sebuah cerita yang telah saya ceritakan ribuan kali hingga dirimu terbuai dalam mimpi.
Disaat saya membutuhkanmu untuk memandikanku,
Janganlah menyalahkanku,
Ingatkah dimasa kecilmu, bagaimana daku dengan berbagai cara membujukmu untuk mandi?
Disaat saya kebingungan menghadapi hal-hal baru dan teknologi modern,
Janganlah menertawaiku.
Renungkanlah bagaimana daku dengan sabarnya menjawab setiap "mengapa" yang engkau ajukan disaat itu.
Disaat kedua kakiku terlalu lemah untuk berjalan,
Ulurkanlah tanganmu yang muda dan kuat untuk memapahku.
Bagaikan dimasa kecilmu daku menuntunmu melangkahkan kaki untuk belajar berjalan.
Disaat daku melupakan topik pembicaraan kita,
Berilah sedikit waktu padaku untuk mengingatnya.
Sebenarnya, topik pembicaraan bukanlah hal yang penting bagiku,
asalkan engkau disisiku untuk mendengarkanku, daku telah bahagia.
Disaat engkau melihat diriku menua, janganlah bersedih.
Maklumilah diriku, dukunglah daku, bagaikan daku terhadapmu,
disaat engkau mulai belajar tentang kehidupan.
Dulu daku menuntunmu menapaki jalan kehidupan ini,
kini temanilah daku hingga akhir jalan hidupku.
Berilah daku cinta kasih dan kesabaranmu,
Daku akan menerimanya dengan senyuman penuh syukur.
Didalam senyumku ini, tertanam kasihku yang tak terhingga padamu.
Senin, 25 Mei 2009
Menjadi lebih baikkah aku

Belakangan ini aku sering merenung apa saja yang sudah aku lakukan selama 38 tahun lebih masa hidupku (mungkin lebih tepat 23 tahun karena diusia 0-15 tahun aku hanya menjalani hidup apa adanya), aku menilai ada beberapa sifat buruk yang mulai bisa aku ubah/kendalikan, dahulu jika aku marah pada seseorang aku akan menyimpan kemarahan dan rasa tidak sukaku kepada orang itu untuk selamanya, dulu jika aku menghadapi suatu masalah, aku akan terus memikirkan masalah itu hingga susah tidur, dulu jika aku berbicara aku akan berbicara apa adanya tanpa memperhatikan kemungkinan orang marah/tersinggung pada ucapanku, dulu jika aku mendengar orang berbicara berbisik-bisik di dekatku, aku menjadi kesal dan merasa orang itu membicarakan kejelekanku, dulu jika aku menginginkan sesuatu aku kadang memperalat adik atau teman untuk kepentinganku, sekarang semua itu sudah mulai bisa aku perbaiki/kendalikan, aku belajar untuk tak lagi menyimpan kemarahan terlalu lama di hatiku, aku mulai jarang tidak bisa tidur karena memikirkan suatu masalah, aku juga terus belajar mengawasi ucapan yang keluar dari mulutku agar orang tak tersinggung oleh ucapanku, aku tak lagi berpikir buruk jika ada orang berbisik2 didekatku, akupun tak berniat lagi memperalat adik/teman untuk kepentinganku sendiri.( Entah dengan penilaian orang lain apakah penilaian mereka tentang aku sama seperti penilaianku akan diriku sendiri?, semoga saja aku tak seperti pepatah yang mengatakan semut diseberang lautan kelihatan, gajah dipelupuk mata tak nampak).
Tapi aku tahu masih banyak hal buruk dalam diriku yang masih harus aku perbaiki/kendalikan, bathinku masih tidak seimbang seperti layang-layang putus tali yang terbawa angin, masih mudah lepas kendali kesabaran dan kesadaran terutama untuk beberapa kondisi tertentu.
Mungkin tidaklah mudah upaya untuk membuat bathinku lebih tenang, lebih stabil, tapi seharusnya karena sudah ada yang telah berhasil aku perbaiki/kendalikan , mestinya aku bisa perbaiki diriku lebih banyak lagi, tidak mudah tapi bukan tidak mungkin.
Jumat, 08 Mei 2009
Hati - hati dengan Ambisimu
Aku kenal dia sejak kelas 4 SD, rumah orangtuanya yang cukup besar di daerah Rawamangun adalah "Cetya" tempat Mamaku kebaktian untuk pertama kalinya.
Usianya hanya 1 tahun di atasku.
Aku mulai mengenalnya lebih dekat setelah sama-sama duduk di bangku Sekolah Menengah Atas, waktu itu kami masih kebaktian bareng, sampai aku dan dia akhirnya berpisah karena dia bekerja di sebuah pabrik semen di Cibinong Bogor.
Sejak saat itu aku jarang sekali bertemu dengannya, kadang-kadang ia datang bertamu saat Tahun Baru atau kadang kami bertemu di acara-acara tertentu.
Hubungan kami mulai terbina lagi setelah jalan nasib mempertemukan aku kembali dengannya, waktu aku entah mengapa bisa pindah kerja ke daerah yang berdekatan dengan tempat Ia dan keluarganya tinggal.
Sebatas pengetahuanku sebagai laki-laki dia adalah laki-laki yang sederhana dan cenderung lembut, emosinyapun aku rasa lebih stabil dibanding denganku.
Seperti halnya dengan aku masa remaja dan masa mudanya nya berjalan penuh keprihatinan, semua semenjak Ayahnya yang sebelumnya menjadi tulang punggung keluarga kehilangan pekerjaan dan tidak pernah bangkit lagi hingga sekarang.
Sejak itu dialah tulang punggung di keluarganya.
Kehidupannya setelah berkeluarga memang sangat sederhana, mengingat dengan penghasilan terbatas ia harus menyokong dua keluarga, keluarga orangtuanya dan keluarganya sendiri atau mungkin juga keluarga isterinya???
Sepengetahuanku ia memang seorang yang sangat peduli dengan orangtua dan adik-adiknya.
Aku mengira sudah cukup mengenal dia, ternyata aku keliru, tak pernah terpikir olehku dia punya ambisi yang sangat besar, kini ia sedang terperosok ke dalam jurang penderitaan semua karena ambisinya. Ia jadi begitu nekad tanpa memperhitungkan resiko besar yang harus ia tanggung jika gagal.
Dan kini resiko itu benar-benar terjadi dan mengantarnya ke dalam jurang penderitaan yang dalam dan panjang, yang juga menyeret keluarganya.
Sebagai teman aku tak bisa berbuat banyak, kecuali memberi dukungan moril agar ia tetap kuat terus bertahan dan terus berjuang, semoga sekali ini aku tidak salah mengenalnya sebagai seorang bermental kuat. Bukankah hidup adalah ketidakkekalan? tiada suka maupun duka yang abadi.
Suatu hal yang aku rasa bisa jadi pelajaran baginya, bagiku dan bagi kita semua berhati-hatilah dengan ambisimu.. ambisi bukan hal yang dilarang, tapi tetaplah waspada dalam melangkah untuk memenuhi ambisimu.
Usianya hanya 1 tahun di atasku.
Aku mulai mengenalnya lebih dekat setelah sama-sama duduk di bangku Sekolah Menengah Atas, waktu itu kami masih kebaktian bareng, sampai aku dan dia akhirnya berpisah karena dia bekerja di sebuah pabrik semen di Cibinong Bogor.
Sejak saat itu aku jarang sekali bertemu dengannya, kadang-kadang ia datang bertamu saat Tahun Baru atau kadang kami bertemu di acara-acara tertentu.
Hubungan kami mulai terbina lagi setelah jalan nasib mempertemukan aku kembali dengannya, waktu aku entah mengapa bisa pindah kerja ke daerah yang berdekatan dengan tempat Ia dan keluarganya tinggal.
Sebatas pengetahuanku sebagai laki-laki dia adalah laki-laki yang sederhana dan cenderung lembut, emosinyapun aku rasa lebih stabil dibanding denganku.
Seperti halnya dengan aku masa remaja dan masa mudanya nya berjalan penuh keprihatinan, semua semenjak Ayahnya yang sebelumnya menjadi tulang punggung keluarga kehilangan pekerjaan dan tidak pernah bangkit lagi hingga sekarang.
Sejak itu dialah tulang punggung di keluarganya.
Kehidupannya setelah berkeluarga memang sangat sederhana, mengingat dengan penghasilan terbatas ia harus menyokong dua keluarga, keluarga orangtuanya dan keluarganya sendiri atau mungkin juga keluarga isterinya???
Sepengetahuanku ia memang seorang yang sangat peduli dengan orangtua dan adik-adiknya.
Aku mengira sudah cukup mengenal dia, ternyata aku keliru, tak pernah terpikir olehku dia punya ambisi yang sangat besar, kini ia sedang terperosok ke dalam jurang penderitaan semua karena ambisinya. Ia jadi begitu nekad tanpa memperhitungkan resiko besar yang harus ia tanggung jika gagal.
Dan kini resiko itu benar-benar terjadi dan mengantarnya ke dalam jurang penderitaan yang dalam dan panjang, yang juga menyeret keluarganya.
Sebagai teman aku tak bisa berbuat banyak, kecuali memberi dukungan moril agar ia tetap kuat terus bertahan dan terus berjuang, semoga sekali ini aku tidak salah mengenalnya sebagai seorang bermental kuat. Bukankah hidup adalah ketidakkekalan? tiada suka maupun duka yang abadi.
Suatu hal yang aku rasa bisa jadi pelajaran baginya, bagiku dan bagi kita semua berhati-hatilah dengan ambisimu.. ambisi bukan hal yang dilarang, tapi tetaplah waspada dalam melangkah untuk memenuhi ambisimu.
Kamis, 07 Mei 2009
Buddhis = Atheis ??

Baru saja baca detik.com kebetulan ada salah satu tampilan detikblog terbaru yang artikelnya bikin penasaran karena berjudul "Atheis sebuah pilihan?" lagi sempat PLUS udah cape dan bosen benar seharian pakai excel kutak-katik kerjaan kantor, aku sempatin masuk ke blog itu.
Loh koh.... aku jadi tertegun dan bathin membacanya...
Mau tahu apa yang ditulis blog itu ?
Walau pengetahuanku akan Buddha Dhamma belum seberapa tapi untuk kalimat itu aku tahu betul kalau itu adalah petikan syair dalam "Kalama Sutta" salah satu bagian dari Sutta dalam kitab suci Agama Buddha Tripitaka.
(soalnya itu Dhamma yang pertama kali bikin aku tertarik pada Buddha Dhamma)
syair itu dengan telak dianggap penulis dan pengomentar sebagai pola pikir "Atheisme", entah apa mereka tahu kalau itu bagian dari kitab sucinya Buddhis, atau tidak?? Yang aku tahu memang banyak umat Non Buddhis yang menganggap Buddhis = Atheis.
Hanya saja menurutku sebenarnya kurang tepat jika syair itu dijadikan "cermin pemikiran Atheis", karena syair itu diucapkan Buddha Gotama untuk menjawab pertanyaan suku Kalama yang sedang dalam kebingungan karena berbagai ajaran yang ada pada masa itu semua mengklaim diri sebagai ajaran yang paling baik dan yang paling benar?
(tidakkah apa yang terjadi di suku Kalama itu sama dengan yang terjadi sekarang?)
Kenyataan yang ada memang sampai saat ini pun apa yang terjadi pada Suku Kalama, masih exis hingga hari ini, banyak agama MENGKLAIM kebenaran kitab sucinya, sementara banyak Kitab Suci menyatakan ajaran mereka satu-satunya ajaran yang benar? dan dengan megatasnamakan Tuhan menuntut pemeluknya untuk menyakini tanpa keraguan sedikitpun, Lalu jadi yang mana sebenarnya benar???
Bagiku agama bisa membuat orang jadi baik, tetapi orang baik bukan hanya milik satu Agama saja.
Kamis, 23 April 2009
Hubungan Teraneh

Entah orang lain sependapat atau tidak, tapi bagi saya sendiri jika ada yang bertanya jenis hubungan apa yang teraneh antar sesama manusia di dunia ini, maka dengan pasti saya akan menjawab "Hubungan Suami Isteri", kenapa aneh... ya karena di dalamnya bisa terjadi segala sesuatu yang saling bertentangan, hubungan sepasang suami isteri yang harmonis bisa menjadi hubungan pribadi yang terdekat, tetapi begitu masalah datang banyak pasangan suami isteri berubah menjadi sepasang musuh.
Hubungan yang termurni bagi saya adalah hubungan Orang tua dan anak, bagi orangtua sampai kapanpun anak adalah orang teristimewa di hatinya, bagaimanapun kondisi si anak, kasih orang tua tidak pernah akan berubah.
Alangkah sayangnya jika ada anak yang demi sebuah hubungan rapuh bernama "suami isteri" mengorbankan hubungan paling berharga yang ia miliki yaitu hubungan dengan orangtuanya, namun sayang kadang "cinta" memang membuat buta, dan kenyataan selalu terlihat terlambat di belakang hari.
Tentu saja hubungan rapuh berlabel "suami isteri" tidak berarti harus selalu berakhir retak, banyak juga yang bisa bertahan sampai maut memisahkan bahkan kian lama terlihat kian berkilau, tapi saya nyakin dibalik semua itu ada restu orang tua yang menyertai.
Semoga jika kelak gadis kecilku dewasa dan memutuskan untuk menikah, dia cukup bijak untuk menyadari tentang hal ini. Menyadari bahwa pernikahan laksana perahu mengarungi lautan, banyak ombak dan badai, tak cukup bermodal sebuah bekal bernama "cinta".
Minggu, 05 April 2009
Pesimis, Optimis atau Realitis
Sebelum berangkat kerja pagi ini, aku menyempatkan diri melayat ke rumah seorang tetangga, Sang suami, Ayah dan Kepala Keluarga di rumah tersebut meninggal dunia di usia yang masih relatif muda 54 tahun, akibat sakit diabetes dan lever yang dideritanya.
Setiap hari di koran aku membaca iklan duka cita, di perjalanan ke kantor pagi ini aku juga mendengar berita duka cita di radio.
Di saat-saat hening seperti saat aku menulis kali ini, betapa aku menyadari kehidupan bagai berjalan melewati sebuah lorong, ada awal dan akan ada akhir, tapi kita sendiri tak pernah tahu masih panjangkah lorong yang akan kita lewati? atau kah kita sesungguhnya sudah begitu dekat dengan ujung lorong?
Kadang aku merasa kehidupanku sekali ini tidak berarti banyak, aku sama dengan kebanyakan manusia yang sibuk dengan kehidupannya sendiri, sehingga kehabisan waktu untuk berbuat sesuatu yang lebih berarti, untuk menjadi manusia yang lebih kaya secara bathin.
Segala yang aku lakukan terikat pada kewajiban dan tanggung jawab.
Aku bekerja karena harus memenuhi kebutuhan hidup aku dan keluargaku, aku juga harus bertanggung jawab untuk seorang anak yang sudah aku lahirkan, dan juga harus bertanggungjawab akan kehidupan berumah tangga yang sudah aku pilih.
Jauh di lubuk hati yang terdalam ingin aku melepaskan semua rutinitas ini, aku ingin hidup bebas, melakukan hal-hal yang aku sukai, berbuat sesuatu yang bukan sekedar untuk memenuhi kewajiban, tetapi lebih dikarenakan kehendakku sendiri, berbuat bukan hanya untuk aku dan keluargaku, tapi berbuat lebih untuk semua.
Aku ingin memanfaatkan sebaik mungkin kehidupanku sebagai manusia, sebelum waktuku habis.
Tapi lihat, beginilah aku saat ini, hanya duduk mengetik pada komputer, di atas sebuah kursi, di ruang sebuah kantor, tidak lebih dan tidak kurang, hingga sore menjelang pulang ke rumah, beres-beres rumah, menemani anak belajar, tidur, lalu esok hari, segera setelah bangun tidur aku kembali akan mengulang rutinitas yang sama seperti hari ini, begitu terus entah sampai kapan?
Jika itu rutinitas tubuhku, lalu bagaimana pikiranku, sama saja setiap hari cuma berpikir pekerjaan apa yang harus aku lakukan hari ini, sibuk berpikir bagaimana aku mempersiapkan keuangan untuk hari esok, untuk anakku, keluarga dan aku sendiri, semua sama persis dengan apa yang kebanyakan manusia lain pikirkan, sementara waktu terus berjalan dan aku masih belum berbuat apa-apa???
Dengan pemikirin seperti ini entah aku ini pesimis atau realistis ?
Mungkin sebaiknya aku menghibur diri, bukankah setidaknya kehidupanku ini, walau cuma untuk segelintir orang, masih memberi arti bagi mereka, dan juga bisa bersikap lebih optimis bahwa bukankah di atas segala rutinitasku, aku masih tetap punya kesempatan untuk berbuat lebih.
Setiap hari di koran aku membaca iklan duka cita, di perjalanan ke kantor pagi ini aku juga mendengar berita duka cita di radio.
Di saat-saat hening seperti saat aku menulis kali ini, betapa aku menyadari kehidupan bagai berjalan melewati sebuah lorong, ada awal dan akan ada akhir, tapi kita sendiri tak pernah tahu masih panjangkah lorong yang akan kita lewati? atau kah kita sesungguhnya sudah begitu dekat dengan ujung lorong?
Kadang aku merasa kehidupanku sekali ini tidak berarti banyak, aku sama dengan kebanyakan manusia yang sibuk dengan kehidupannya sendiri, sehingga kehabisan waktu untuk berbuat sesuatu yang lebih berarti, untuk menjadi manusia yang lebih kaya secara bathin.
Segala yang aku lakukan terikat pada kewajiban dan tanggung jawab.
Aku bekerja karena harus memenuhi kebutuhan hidup aku dan keluargaku, aku juga harus bertanggung jawab untuk seorang anak yang sudah aku lahirkan, dan juga harus bertanggungjawab akan kehidupan berumah tangga yang sudah aku pilih.
Jauh di lubuk hati yang terdalam ingin aku melepaskan semua rutinitas ini, aku ingin hidup bebas, melakukan hal-hal yang aku sukai, berbuat sesuatu yang bukan sekedar untuk memenuhi kewajiban, tetapi lebih dikarenakan kehendakku sendiri, berbuat bukan hanya untuk aku dan keluargaku, tapi berbuat lebih untuk semua.
Aku ingin memanfaatkan sebaik mungkin kehidupanku sebagai manusia, sebelum waktuku habis.
Tapi lihat, beginilah aku saat ini, hanya duduk mengetik pada komputer, di atas sebuah kursi, di ruang sebuah kantor, tidak lebih dan tidak kurang, hingga sore menjelang pulang ke rumah, beres-beres rumah, menemani anak belajar, tidur, lalu esok hari, segera setelah bangun tidur aku kembali akan mengulang rutinitas yang sama seperti hari ini, begitu terus entah sampai kapan?
Jika itu rutinitas tubuhku, lalu bagaimana pikiranku, sama saja setiap hari cuma berpikir pekerjaan apa yang harus aku lakukan hari ini, sibuk berpikir bagaimana aku mempersiapkan keuangan untuk hari esok, untuk anakku, keluarga dan aku sendiri, semua sama persis dengan apa yang kebanyakan manusia lain pikirkan, sementara waktu terus berjalan dan aku masih belum berbuat apa-apa???
Dengan pemikirin seperti ini entah aku ini pesimis atau realistis ?
Mungkin sebaiknya aku menghibur diri, bukankah setidaknya kehidupanku ini, walau cuma untuk segelintir orang, masih memberi arti bagi mereka, dan juga bisa bersikap lebih optimis bahwa bukankah di atas segala rutinitasku, aku masih tetap punya kesempatan untuk berbuat lebih.
Kamis, 01 Januari 2009
Belajar dari Adenium

Sungguh tepat ungkapan "dari Alam kita bisa banyak belajar", saya sudah membuktikan sendiri hal tersebut. Lebih dari Setahun yang lalu saat baru pindah rumah saya membeli dua pot kecil pohon adenium, yang satu sudah berbunga sedangkan satu pot lainnya belum berbunga, minggu demi minggu, bulan demi bulan saya menunggu pohon itu berbunga tapi ia tidak kunjung berbunga .... Satu tahun sudah lewat tapi belum juga ada tanda-tanda pohon itu akan berbunga, sementara satu pot adenium lainnya sudah berkali-kali berbunga, padahal perlakuan atas kedua pohon itu sama saja, cuma disiram sekali saja setiap harinya, saya sudah merasa pot kedua itu memang tidak akan berbunga, terpikir oleh saya untuk mencabut saja pohon tersebut, lalu membuangnya, tapi belum sempat saya mencabutnya, tiba-tiba suatu pagi saat hendak menyiram pohon tersebut (ya walau sudah putus asa dia akan berbunga, saya masih tetap rajin menyiramnya) saya terpana melihat bakal bunga yang mulai muncul disalah satu pucuknya...ternyata adenium itu berbunga juga, bunganya berwarna putih.
Ternyata selain ketekunan dibutuhkan kesabaran untuk adenium itu berbunga, jika saja saya terlanjur mencabut pohon kecil itu maka matilah kesempatan adenium itu untuk hidup dan memberikan bunganya.
Dari adenium itu saya mendapat suatu pelajaran selama tetap tekun menjalankan sesuatu, suatu saat pasti membawa hasil... jika selama ini banyak orang yang gagal mungkin karena terlalu cepat putus asa, seperti saya yang nyaris mencabut adenium berbunga putih itu.
Langganan:
Postingan (Atom)
