Aku memiliki masa kecil yang jauh dari ideal, lahir sebagai anak kedua yang lalu jadi anak pertama Ibuku (karena anak pertama Ibuku meninggal di usia bayi), tapi anak nomor kesekian dari ayahku (ayahku punya 2 orang isteri), maka aku menanggung tanggung jawab lebih sebagai anak pertama, tetapi tidak memiliki keistimewaan perhatian dan kasih sayang sebagai anak pertama. Aku besar dalam kondisi Ibu sebagai isteri kedua, ditambah keberadaan Nenek (Ibu dari Ibuku yang otoriter dan galak) dan sedikitnya waktu ayah dirumahku.
Sisi baiknya kondisi seperti itu membentuk aku menjadi anak yang lebih cepat dewasa secara pemikirin dibanding anak-anak lain seusiaku, tapi sisi negatifnya, entah apakah memang sudah kepribadianku atau pengaruh dari semua itu, aku menjadi anak yang pemikir, terlalu peka dan pencemas.
Akibatnya aku kurang bisa menikmati hari, karena selalu saja gelisah dan cemas.
Ketidakdekatanku dengan orangtua di masa kecil juga membuatku menjadi orang yang mandiri, hampir semua masalah kuhadapi sendiri, tak pernah kubicarakan dengan orangtua atau adik-adik.
Bahkan setelah menikahpun aku juga lebih sering menyimpan sendiri semua kegundahan hati, terlebih lagi menurutku suamiku bukan orang type yang enak buat di ajak curhat.
Jadi kalau sekarang aku memutuskan hanya memiliki satu anak saja, lalu orang bilang kasihan nanti anakku tak punya saudara untuk berbagi jika punya masalah, hal itu tentu saja tak membuatku bergeming.
Kadang jika aku sedang memperhatikan anakku bermain dan tertawa dengan riangnya, dalam hati aku berkata, anakku kamu sungguh lebih jauh beruntung dibanding Mamamu, rasanya sewaktu kecil jarang sekali aku bisa begitu bahagia dan tertawa lepas seperti dirimu.
Jumat, 13 Januari 2012
Selasa, 15 November 2011
????
Secara pribadi aku tak begitu mengenalnya, ia kukenal hanya karena posisinya sebagai isteri dari seorang teman. Jadi jujur saja aku tak tahu seperti apa dia, semasa gadis ia beragama sama dengan agama yang dianut orang tuanya, entah apakah semasa itu dia benar-benar menjalankan ajaran agamanya, setengah-setengah atau bahkan tidak sama sekali aku tak tahu itu. Beberapa saat sebelum menikah ia menganti agamanya menjadi agama yang sama dengan agama calon suaminya. Ganti agama? bukan itu topik yang ingin kusampaikan dalam tulisan ini. Ganti agama kurasa sudah menjadi hal yang biasa terjadi, dan tak perlu diributkan lagi, itu adalah hak setiap orang. Masalahnya aku terkaget-kaget waktu suatu ketika mendengar secara langsung teman isteriku itu menyatakan sesuatu yang pada intinya menyatakan bahwa umat pemeluk agama dari agamanya sebelum menikah adalah pemeluk agama yang salah. Oala Tuhan begitu dashyatkah suatu agama mengubah pola pikir seseorang. Aku kebetulan bukan pemeluk agama ia sebelum dan sesudah menikah, jadi aku berada dalam posisi netral, tapi jujur aku merasa sangat kaget waktu mendengar hal itu. Atau mungkin juga sebenarnya aku tidak dalam posisi netral bukankah dengan berkata seperti itu secara tidak langsung ia mengklaim agamanya sekarang adalah agama yang paling benar dan sudah tentu itu berarti juga ia menilai (pendapatnya sendiri atau memang agamanya mengajarkan seperti itu ??) agama lain adalah sesat.... (bukankah itu berarti agamaku juga termasuk ya)? Kejadian itu sekali lagi membuatku berpikir haruskah iman membuat kita tak lagi harus mencerna dengan logika, apakah iman memang tidak boleh diselaraskan dengan logika?
Satu lagi orang yang sangat kukenal, yang semula berpikir kebenaran adalah universal bukan milik suatu agama saja, setelah terlibat lebih dalam dengan ajaran agamanya, berubah menjadi kebanyakan penganut agama itu yang hanya mengakui kebenaran agamanya saja dan menyangkal kebenaran ajaran agama lain.
Sering aku berpikir, bukankah seorang ibu akan menyayangi semua anaknya seperti apapun anaknya itu, lalu kenapa Engkau yang katanya Maha segalanya malah seperti itu?
Satu lagi orang yang sangat kukenal, yang semula berpikir kebenaran adalah universal bukan milik suatu agama saja, setelah terlibat lebih dalam dengan ajaran agamanya, berubah menjadi kebanyakan penganut agama itu yang hanya mengakui kebenaran agamanya saja dan menyangkal kebenaran ajaran agama lain.
Sering aku berpikir, bukankah seorang ibu akan menyayangi semua anaknya seperti apapun anaknya itu, lalu kenapa Engkau yang katanya Maha segalanya malah seperti itu?
Kamis, 13 Oktober 2011
Galau
Oh aku letih sekali
rasanya aku ingin tidur yang panjang
dan tak ingin terjaga lagi
tapi pagi hari masih setia
menbangunkanku
aku bangun tapi jiwa ragaku
tetap merasa lelah
aku tiada rasa gairah
hari-hari terasa kosong dan menjemukan
sedikit hiburan kadang kudapatkan
tapi setelah itu kembali galau menyergap jiwa
takkah aku terlalu lemah hingga kubiarkan mereka
merampas kebahagiaanku
orang orang yang kepadanya justru aku tak mungkin menjauh
rasanya aku ingin tidur yang panjang
dan tak ingin terjaga lagi
tapi pagi hari masih setia
menbangunkanku
aku bangun tapi jiwa ragaku
tetap merasa lelah
aku tiada rasa gairah
hari-hari terasa kosong dan menjemukan
sedikit hiburan kadang kudapatkan
tapi setelah itu kembali galau menyergap jiwa
takkah aku terlalu lemah hingga kubiarkan mereka
merampas kebahagiaanku
orang orang yang kepadanya justru aku tak mungkin menjauh
Rindu
Jika melihat judul tulisan di atas jangan berpikir aku sedang merindukan seseorang, kerinduanku kali ini bukanlah pada pada seseorang, aku hanyalah rindu menulis, karena tiap kali aku membaca ulang hasil tulisanku ada suatu rasa yang sulit kuungkapan antara kebanggaan dan keharuan. Keharuan sebab hanya dalam tulisanku kutemukan kejujuran yang melegakan, dan kebanggaan pada kemampuanku merangkai setiap kata. Entah bagaimana dengan orang lain yang kebetulan pernah membaca tulisan-tulisanku di blog ini dan membaca juga tulisanku kali ini, apakah mereka akan menertawakan atau sebaliknya setuju dengan penilaianku atas diriku sendiri ini.
Kedamaian yang kudapat setiap membaca ulang tulisan-tulisanku sendiri, sungguh amat menyenangkan, mengingat sangat jarang kualami saat-saat di mana hati terasa begitu damai, ada kalanya aku sengaja mencarinya di tempat yang jauh, yang kukira bisa membuatku merasa damai, tetapi ternyata seringkali damai itu tak kuperoleh, sebaliknya saat sendiri, duduk di suatu tempat sederhana, di pinggir sebuah kolam renang kecil yang hanya dihiasi pohon-pohon kamboja dan cahaya lampu listrik berwarna temaram, tiba-tiba rasa damai datang menyeruak di hati.
Mungkin aku memang bukanlah manusia pencinta keramaian, justru dalam sepi-lah aku menemukan kedamaian.
Bukankah tulisan itu sendiri sebenarnya adalah sebuah percakapan tanpa suara, jauh dari kebisingan dan ia tak membutuhkan interaksi langsung dari orang lain.
Minggu, 20 Maret 2011
Riak Gelombang di Kedalaman Hati

Entah seperti apa orang lain menilai kepribadianku dan seperti apa aku di mata mereka, yang jelas aku merasa aku lah yang paling tahu tentang diriku sendiri, walau yang sebenar-benarnya kenyataan aku sendiri sering tak mengerti kenapa aku yang merasa paling paham pada diriku sendiri, kerap tak bisa mengatur suasana hatiku sendiri, bahkan aku pun menjalani kehidupan yang sesungguhnya sebagian besar tak sesuai dengan keinginanku.
Seperti riak gelombang di lautan itulah diriku, hanya riak itu mungkin tak terlalu tampak di permukaan tetapi lebih bermain di kedalaman. Riak gelombang yang tak kuasa kukendalikan apalagi kehentikan. Andai saja riak itu bagai irama lagu yang memberi rasa kegembiraan riak itu kan kurangkul dengan ikhlas, sayangnya riak itu sungguh amat mengganggu, membuatku selalu merasa lelah, hingga nyaris membuatku merasa jenuh dan berharap bisa mengakhiri semua itu.
Tetapi aku kira aku tak akan bisa menghilangkan riak gelombang itu dalam kehidupanku sekarang, yang masih mungkin berhasil adalah usahaku untuk mengurangi riak-riak itu dari hatiku, dengan selalu berusaha hidup dalam kebaikan walaupun tak jarang meleceng terpengaruh riak-riak gelombang itu, seperti perahu hanyut terbawa ombak, berjuang meredakan riak gelombang sedikit demi sedikit dari satu kehidupan ke kehidupan lain, hingga kelak di suatu kehidupan riak itu akan benar-benar lenyap selamanya.
Suatu masa ketika segala sesuatu menjadi jernih dan jelas sejelas jelasnya, saat kedamaian tak perlu lagi kucari, ketika kedamaian adalah aku dan aku adalah kedamaian.
Rabu, 05 Januari 2011
Teman Hidupku
Teman Hidupku,
Aku telah memilihmu sebagai teman hidupku
Dan hingga hari ini aku masih terus belajar
untuk lebih mengenal dan memahami dirimu
dan aku jujur
aku memang masih sering salah dan tak memahami kamu
aku mengecewakan,
aku membuatmu marah
aku mengabaikanmu
aku telah mencoba untuk menyelaraskan diriku dengan kamu,
tapi mungkin upayaku terlalu sedikit hingga tak tampak
di matamu.
Tapi apakah kamu juga seperti aku,
berusaha mengenal dan lebih memahami aku,
aku bukan tak mau menjadi seperti yang kamu harapkan,
tapi bisakah kamu lebih sabar menunggu?
dengan tetap bersedia menerima diriku saat ini,
tanpa membuatku merasa menjadi teman hidup yang buruk.
Mungkin lebih baik jangan berbuat lebih untukku,
jika kau tahu aku akan mengecewakanmu,
sebab aku tak akan mampu menjamin,
aku mampu melakukan hal yang sama sepertimu.
Semoga kamu bisa mengerti,
bahwa akupun akan selalu mencoba
untuk selalu bisa menerima dirimu apa adanya.
Aku telah memilihmu sebagai teman hidupku
Dan hingga hari ini aku masih terus belajar
untuk lebih mengenal dan memahami dirimu
dan aku jujur
aku memang masih sering salah dan tak memahami kamu
aku mengecewakan,
aku membuatmu marah
aku mengabaikanmu
aku telah mencoba untuk menyelaraskan diriku dengan kamu,
tapi mungkin upayaku terlalu sedikit hingga tak tampak
di matamu.
Tapi apakah kamu juga seperti aku,
berusaha mengenal dan lebih memahami aku,
aku bukan tak mau menjadi seperti yang kamu harapkan,
tapi bisakah kamu lebih sabar menunggu?
dengan tetap bersedia menerima diriku saat ini,
tanpa membuatku merasa menjadi teman hidup yang buruk.
Mungkin lebih baik jangan berbuat lebih untukku,
jika kau tahu aku akan mengecewakanmu,
sebab aku tak akan mampu menjamin,
aku mampu melakukan hal yang sama sepertimu.
Semoga kamu bisa mengerti,
bahwa akupun akan selalu mencoba
untuk selalu bisa menerima dirimu apa adanya.
Renungan Tahun Baru
Sebenarnya apa istimewanya sebuah pergantian tahun, toh itu sebenarnya hanyalah suatu pergantian tanggal dan bulan dalam sebuah kalender buatan manusia, mengapa kebanyakan dari kita begitu bersemangat menyambut malam yang kita sebut malam tahun baru? Menjadikan malam itu menjadi malam yang istimewa, malam yang berbeda dengan malam-malam lainnya.
Tapi kita mungkin memang amat membutuhkan hari-hari yang berbeda, hari-hari yang istimewa itu, sebagai penghiburan dari hari-hari penuh rutinitas yang harus kita jalani sepanjang kehidupan kita.
Banyak doa dan pengharapan disampaikan manusia pada Tuhan yang mereka percayai, untuk kehidupan yang lebih baik di tahun yang baru.
Mungkin itu juga yang jadi harapanku, walau tidak kusampaikan secara formal dalam bentuk sebuah doa di malam pergantian tahun baru, tapi untukku harapan terbesar adalah aku tetap memiliki kekuatan untuk menjalani segala pahit getir kehidupan di tahun yang baru.
Selamat Tahun Baru 2011 semua manusia ingin berbahagia, semoga kita semua berbahagia.
Tapi kita mungkin memang amat membutuhkan hari-hari yang berbeda, hari-hari yang istimewa itu, sebagai penghiburan dari hari-hari penuh rutinitas yang harus kita jalani sepanjang kehidupan kita.
Banyak doa dan pengharapan disampaikan manusia pada Tuhan yang mereka percayai, untuk kehidupan yang lebih baik di tahun yang baru.
Mungkin itu juga yang jadi harapanku, walau tidak kusampaikan secara formal dalam bentuk sebuah doa di malam pergantian tahun baru, tapi untukku harapan terbesar adalah aku tetap memiliki kekuatan untuk menjalani segala pahit getir kehidupan di tahun yang baru.
Selamat Tahun Baru 2011 semua manusia ingin berbahagia, semoga kita semua berbahagia.
Langganan:
Entri (Atom)
