Senin, 15 Juni 2009

Bila aku bahagia



Ada sebuah lagu yang sangat terkesan di hatiku,

Lama t'lah ku mencari,
berkelana kian kemari
dimana gerangan dikau duhai bahagia
aku bersukaria bertamasya ke taman sari
bahagia sekejap mata hanya bagai mimpi

aku mohon para dewa-dewi
masuk ke candi menjunjung jari
tetapi hanyalah hampa
surga tak dapat dibeli

sekarang ku mengerti
bahagia di dalam hati
dimana sang napsu lenyap
disana bahagia..

akupun sering bertanya bila aku bahagia, apa arti kebahagian buatku...?

Moment-moment penting dalam hidup seperti menikah, menjadi seorang ibu, bercengkrama bersama keluarga, mungkin membahagiakan, tapi aku merasa bukan sebatas itu kebahagiaan yang kudamba, aku haus kebahagian yang lebih personal, yang lebih dekat dengan diriku sendiri, kebahagian mutlak tanpa pengaruh keberadaaan pihak luar.

Hingga pada suatu titik aku menyadari kebahagian yang aku damba itu begitu sederhana, namun sayangnya sangat sulit kudapatkan, ritual hidup keseharian yang
padat kesibukan membuat aku kehilangan waktu untuk meraih kebahagiaan itu, mengapa ?

Karena Bahagia yang kucari itu ternyata bukan kesenangan penuh tawa, bukan rasa hati yang mengelora, bukan juga kepuasan yang membuncah, kebahagiaan ku ada dalam kedamaian jiwa, kedamaian jiwa dalam kesendirian, keheningan, saat diriku menyatu dengan alam, menyatu dengan diriku sendiri, tidak berpikir, tidak menganalisa, yang ada hanya diam, hanya hening dalam diri, selaras dengan keheningan alam.


Itulah sesungguhnya kebahagian yang selalu kurindu, kedamaian jiwa yang hingga hari ini masih sulit kuraih.

Minggu, 14 Juni 2009

Di saat daku tua...



Di tulis ulang dari sebuah booklet, semoga selalu mengingatkanku..

Disaat Daku Tua ...

Disaat daku tua, bukan lagi diriku yang dulu.
Maklumilah diriku, bersabarlah dalam menghadapiku.

Disaat daku menumpahkan kuah sayuran di bajuku,
Disaat daku tidak lagi mengingat cara mengikatkan tali sepatu,
Ingatlah saat-saat bagaimana daku mengajarimu, membimbingmu untuk melakukannya.

Disaat saya dengan pikunnya mengulang terus menerus ucapan yang membosankanmu,
Bersabarlah mendengarkanku, jangan memotong ucapanku,
Dimasa kecilmu, Daku harus mengulang dan mengulang terus sebuah cerita yang telah saya ceritakan ribuan kali hingga dirimu terbuai dalam mimpi.

Disaat saya membutuhkanmu untuk memandikanku,
Janganlah menyalahkanku,
Ingatkah dimasa kecilmu, bagaimana daku dengan berbagai cara membujukmu untuk mandi?

Disaat saya kebingungan menghadapi hal-hal baru dan teknologi modern,
Janganlah menertawaiku.
Renungkanlah bagaimana daku dengan sabarnya menjawab setiap "mengapa" yang engkau ajukan disaat itu.

Disaat kedua kakiku terlalu lemah untuk berjalan,
Ulurkanlah tanganmu yang muda dan kuat untuk memapahku.
Bagaikan dimasa kecilmu daku menuntunmu melangkahkan kaki untuk belajar berjalan.

Disaat daku melupakan topik pembicaraan kita,
Berilah sedikit waktu padaku untuk mengingatnya.
Sebenarnya, topik pembicaraan bukanlah hal yang penting bagiku,
asalkan engkau disisiku untuk mendengarkanku, daku telah bahagia.

Disaat engkau melihat diriku menua, janganlah bersedih.
Maklumilah diriku, dukunglah daku, bagaikan daku terhadapmu,
disaat engkau mulai belajar tentang kehidupan.


Dulu daku menuntunmu menapaki jalan kehidupan ini,
kini temanilah daku hingga akhir jalan hidupku.
Berilah daku cinta kasih dan kesabaranmu,
Daku akan menerimanya dengan senyuman penuh syukur.
Didalam senyumku ini, tertanam kasihku yang tak terhingga padamu.