Setiap kali mengamati anak dan keponakan-keponakan kecilku sedang bermain dan bercengkrama bersama, ada rasa iri terselip di hati, betapa bahagia menjadi kanak-kanak, hidup terasa begitu ringan dan menyenangkan, walau kadang mereka juga marah dan menangis, tapi dengan segera dan nyaris seperti tanpa bekas, mereka akan kembali ceria dan penuh tawa.
Saya sangat menikmati saat-saat senggang bermain bersama mereka, apalagi dengan keponakan-keponakan kecil, dimana saya bisa mencintai mereka apa adanya, tanpa dibebani tanggungjawab seperti pada anak sendiri.
Disaat saya merasa jenuh dan gundah, bercengkrama bersama mereka memberi sedikit kelegaan dan rasa damai, melihat mereka tersenyum, tertawa dan berceloteh dengan polosnya.
Kadang saya berdoa dalam hati semoga setelah mereka dewasa kelak mereka tetap memiliki kebahagiaan sebesar kebahagiaan mereka sekarang, walaupun agak sulit mengingat setelah manusia dewasa, mereka akan membutuhkan lebih banyak syarat untuk bahagia tak seperti anak kecil yang begitu mudah bahagia hanya dengan
hal-hal yang remeh-remeh saja.
Tapi setidaknya mereka sungguh beruntung karena mereka memiliki kehidupan masa kanak-kanak yang indah dan menyenangkan, karena menurut saya itu adalah fondasi yang bagus untuk kehidupan mereka selanjutnya.
Ah sungguh iri rasanya melihat mereka, mengingat masa kecilkku tak seindah mereka.
Senin, 23 Agustus 2010
Selasa, 20 Juli 2010
Aku cuma manusia biasa
Seharusnya malam itu kejadian memalukan seperti itu tidak terjadi, jarang sekali amarahku meledak begitu rupa, seingatku sepanjang usiaku hal itu hanya 3x terjadi, dan ini yang terburuk bagiku dan sedihnya mengapa ketiganya dipicu oleh orang-orang terdekat dalam hidupku. Walau dari luar terlihat acuh dan tak hangat, sesungguhnya aku orang yang cukup peka, sedikit kesalahan cukup membuatku berpikir dan sebisa mungkin aku mencoba untuk tak mengulang kesalahan dan kebodohan yang sama untuk kedua kalinya, walau kadang tidak selalu berhasil. Akupun belajar dari pengalaman masa lalu, enggan untuk larut dalam kemarahan yang panjang, terlebih lagi dengan orang-orang terdekat di kehidupanku, tanpa kemarahanpun rasa letih ini sudah terasa begitu dalam, maka aku lebih memilih mengalah dan rela merendahkan diri demi sebuah kedamaian, aku sungguh tak mau meledak dalam kemarahan, bagiku itu suatu hal yang amat memalukan, membuatku merasa gagal sebagai manusia, tapi malam itu "ledakan" itu muncul tak tertahankan, ia pecah bagai sebuah bom, selama beberapa detik kesadaranku benar-benar hilang, walau setelah itu aku secepatnya berusaha untuk menata kembali kesadaran diriku. Tapi kenangan buruk yang ditimbulkan akibat kehilangan kesadaran selama beberapa saat itu, aku tahu tetap akan membekas selamanya dalam diriku. Salah siapakah semua ini? Aku yang lemah atau salah sipemicu semua ini?
Tapi setidaknya dari kejadian ini ada jadi tahu seperti apa kualitas diriku yang sebenarnya, setidaknya aku bersyukur dalam amarahpun aku masih bisa menjaga ucapanku dalam batas-batas yang tak menyakiti hati pihak lain.
Dan api itupun bisa cepat kupadamkan habis tanpa meninggalkan sisa setelahnya.
Aku sungguh sudah tak marah lagi, mungkin yang masih tersisa adalah rasa sesal dan kecewa, yang sekarang masih belum bisa kuhilangkan, tapi suatu hari kelak akan kucoba untuk juga menghapusnya dari hati ini.
Tapi setidaknya dari kejadian ini ada jadi tahu seperti apa kualitas diriku yang sebenarnya, setidaknya aku bersyukur dalam amarahpun aku masih bisa menjaga ucapanku dalam batas-batas yang tak menyakiti hati pihak lain.
Dan api itupun bisa cepat kupadamkan habis tanpa meninggalkan sisa setelahnya.
Aku sungguh sudah tak marah lagi, mungkin yang masih tersisa adalah rasa sesal dan kecewa, yang sekarang masih belum bisa kuhilangkan, tapi suatu hari kelak akan kucoba untuk juga menghapusnya dari hati ini.
Kamis, 27 Mei 2010
Petuah bagi diri sendiri
Hiduplah untuk hari ini, jangan berpaling ke masa lalu dan usah cemaskan hari esok, cobalah untuk bahagia saat ini juga.
Lapangkan hatimu, ringankan langkahmu. Jasmanimu boleh tua seiring pertambahan usia, tapi bathinmu semestinya semakin cemerlang dengan semakin bertambahnya pelajaran kehidupan.
Jadikan segala kesusahan guru ketangguhan.
Perbaiki dirimu sendiri sebelum kau mencoba memperbaiki orang lain.
Berpikirlah sebagai dirimu sendiri dan orang lain.
Tuluslah dan itu akan meringankan langkah hidupmu.
Belajarlah untuk mencintai orang lain sebesar cinta seorang ibu pada anaknya.
Percayalah bahwa setiap kehidupan itu pasti berarti.
Percayalah bahwa tiada kebaikan yang sia-sia.
Yakinlah setiap niat baik pasti memiliki jalannya sendiri.
jika kau ingat bahwa hidup itu berubah,
maka jangan tenggelam dalam duka,
dan jangan terlena dalam suka.
Lapangkan hatimu, ringankan langkahmu. Jasmanimu boleh tua seiring pertambahan usia, tapi bathinmu semestinya semakin cemerlang dengan semakin bertambahnya pelajaran kehidupan.
Jadikan segala kesusahan guru ketangguhan.
Perbaiki dirimu sendiri sebelum kau mencoba memperbaiki orang lain.
Berpikirlah sebagai dirimu sendiri dan orang lain.
Tuluslah dan itu akan meringankan langkah hidupmu.
Belajarlah untuk mencintai orang lain sebesar cinta seorang ibu pada anaknya.
Percayalah bahwa setiap kehidupan itu pasti berarti.
Percayalah bahwa tiada kebaikan yang sia-sia.
Yakinlah setiap niat baik pasti memiliki jalannya sendiri.
jika kau ingat bahwa hidup itu berubah,
maka jangan tenggelam dalam duka,
dan jangan terlena dalam suka.
Rabu, 21 April 2010
Pasti ada hasilnya
Tidak mudah mendidik seorang anak, walau banyak artikel dan buku tentang cara mendidik anak, bisa dibilang tidak ada satupun yang benar-benar bisa diterapkan dan mendapatkan hasil sesuai gambaran. Dan saya yakin setiap orang tua setuju akan hal ini, tapi yang ingin saya sampaikan kali ini bukan sekedar tentang sulitnya mendidik seorang anak, tapi lebih kepada suatu makna yang bisa kita petik dari hal mendidik anak.
Sejak kecil bahkan dengan segala keterbatasan yang ada, karena berasal dari keluarga ekonomi lemah, saya sudah sangat gemar membaca, ketidak mampuan orang tua menyediakan buku-buku bacaan tidak mengurangi kegemaran saya membaca, banyak hal saya lakukan agar tetap dapat membaca, meminjam buku teman, membaca koran bungkus makanan, meminjam buku di perpustakaan sekolah hingga merelakan uang saku sekolah untuk membeli buku.
Sekarang saya cukup mampu dan sangat suka membelikan buku bacaan untuk anak saya, bahkan sebelum dia bisa membaca, apalagi buku anak sekarang tampil sangat menarik. Tapi ternyata anak saya (sekarang sudah kelas II SD) tidak terlahir dengan minat baca yang kuat seperti saya, sekalipun ia memiliki bahan bacaan yang cukup melimpah, ia tidak suka membaca dan lebih suka dibacakan saja.
Sewaktu ia belum bisa membaca saya terbiasa membacakan buku untuknya, tetapi setelah ia mulai bisa membaca, saya meminta agar ia membaca sendiri, tetapi meminta anak saya membaca buku sama sulitnya dengan meminta ia belajar pelajaran sekolah. Membaca buku seperti menjadi beban dan bukan kesenangan baginya.
Tapi walau jengkel dan kesal dengan kemalasan anak saya membaca, tapi terus saja saya mengulang-ngulang berkata padanya betapa bergunanya suka membaca, bahwa membaca akan membuat ia lebih pintar.
Dan saya tetap tidak berhenti membelikan ia buku, walaupun sebenarnya buku-buku lamanyapun kebanyakan belum ia baca sama sekali, kadang saya mengeluhkan betapa ironisnya dulu saya suka membaca tapi orangtua tak mampu memfasilitasi tapi sekarang saya mampu tapi anak saya yang malas membaca.
Tapi akhirnya muncul perkembangan baru yang mengembirakan buat saya. Minat baca anak saya mulai muncul, ia mulai suka membaca, senangnya waktu mendengar ia berkata "ternyata membaca itu lebih menyenangkan daripada bermain ya Ma..."
Ternyata kata bijak yang menyatakan " tiada usaha yang sia-sia" sungguh terbukti.
Sejak kecil bahkan dengan segala keterbatasan yang ada, karena berasal dari keluarga ekonomi lemah, saya sudah sangat gemar membaca, ketidak mampuan orang tua menyediakan buku-buku bacaan tidak mengurangi kegemaran saya membaca, banyak hal saya lakukan agar tetap dapat membaca, meminjam buku teman, membaca koran bungkus makanan, meminjam buku di perpustakaan sekolah hingga merelakan uang saku sekolah untuk membeli buku.
Sekarang saya cukup mampu dan sangat suka membelikan buku bacaan untuk anak saya, bahkan sebelum dia bisa membaca, apalagi buku anak sekarang tampil sangat menarik. Tapi ternyata anak saya (sekarang sudah kelas II SD) tidak terlahir dengan minat baca yang kuat seperti saya, sekalipun ia memiliki bahan bacaan yang cukup melimpah, ia tidak suka membaca dan lebih suka dibacakan saja.
Sewaktu ia belum bisa membaca saya terbiasa membacakan buku untuknya, tetapi setelah ia mulai bisa membaca, saya meminta agar ia membaca sendiri, tetapi meminta anak saya membaca buku sama sulitnya dengan meminta ia belajar pelajaran sekolah. Membaca buku seperti menjadi beban dan bukan kesenangan baginya.
Tapi walau jengkel dan kesal dengan kemalasan anak saya membaca, tapi terus saja saya mengulang-ngulang berkata padanya betapa bergunanya suka membaca, bahwa membaca akan membuat ia lebih pintar.
Dan saya tetap tidak berhenti membelikan ia buku, walaupun sebenarnya buku-buku lamanyapun kebanyakan belum ia baca sama sekali, kadang saya mengeluhkan betapa ironisnya dulu saya suka membaca tapi orangtua tak mampu memfasilitasi tapi sekarang saya mampu tapi anak saya yang malas membaca.
Tapi akhirnya muncul perkembangan baru yang mengembirakan buat saya. Minat baca anak saya mulai muncul, ia mulai suka membaca, senangnya waktu mendengar ia berkata "ternyata membaca itu lebih menyenangkan daripada bermain ya Ma..."
Ternyata kata bijak yang menyatakan " tiada usaha yang sia-sia" sungguh terbukti.
Kamis, 11 Februari 2010
Semua ada batasnya
Ada pesan bijak yang mengatakan "Jangan gembira berlebihan tapi jangan pula terlalu larut dalam kesedihan". Jangan tertawa terus nanti kamu bakal menangis.
Jika saja kita semua mau sedikit saja merenung tentang kehidupan ini, maka saya pikir kita semua akan menyadari kebenaran kata-kata tersebut.
Memang sebagian hidup kita ditentukan oleh perbuatan kita sendiri, tetapi sebagian lagi sepertinya berada di luar jangkauan diri kita sendiri.
Hidup sendiri adalah seperti koin dua sisi, ada suka ada duka, ada terang ada gelap, ada pujian ada hinaan, ada tawa ada tangis, ada sehat ada sakit. Terkadang manusia lupa akan hal itu, jika sedang bahagia kita lupa bahwa kebahagiaan itu tidak kekal, jika sedang menderita kita terpuruk dalam kesedihan dan keputus-asaan, seakan penderitaan itu tidak akan berakhir.
Andai saja kita semua bisa selalu sadar bahwa begitulah sifat kehidupan, pastilah saat posisi kita di atas kita tetap waspada dan tiada sombong, sementara saat kita berada di bawah kita masih mampu bersabar tetap berpengharapan serta menjadi lebih kuat dan tabah.
Seharusnyalah kebahagiaan memberi kita kesempatan untuk berbuat banyak kebajikan, sementara kesukaran/penderitaan menempa kita menjadi lebih kuat, lebih sabar dan lebih bijak.
Dalam kebahagiaan ataupun kesukaran, keduanya memiliki suatu pelajaran yang bisa kita petik, jika saja kita bisa lebih jernih melihatnya jauh ke dalam.
Kutulis ini untuk adikku yang sedang dalam kesusahan, semoga setelah kesusahan itu berakhir adikku yang bermental baja semakin tangguh dan juga bertambah arif dan bijaksana.
Jika saja kita semua mau sedikit saja merenung tentang kehidupan ini, maka saya pikir kita semua akan menyadari kebenaran kata-kata tersebut.
Memang sebagian hidup kita ditentukan oleh perbuatan kita sendiri, tetapi sebagian lagi sepertinya berada di luar jangkauan diri kita sendiri.
Hidup sendiri adalah seperti koin dua sisi, ada suka ada duka, ada terang ada gelap, ada pujian ada hinaan, ada tawa ada tangis, ada sehat ada sakit. Terkadang manusia lupa akan hal itu, jika sedang bahagia kita lupa bahwa kebahagiaan itu tidak kekal, jika sedang menderita kita terpuruk dalam kesedihan dan keputus-asaan, seakan penderitaan itu tidak akan berakhir.
Andai saja kita semua bisa selalu sadar bahwa begitulah sifat kehidupan, pastilah saat posisi kita di atas kita tetap waspada dan tiada sombong, sementara saat kita berada di bawah kita masih mampu bersabar tetap berpengharapan serta menjadi lebih kuat dan tabah.
Seharusnyalah kebahagiaan memberi kita kesempatan untuk berbuat banyak kebajikan, sementara kesukaran/penderitaan menempa kita menjadi lebih kuat, lebih sabar dan lebih bijak.
Dalam kebahagiaan ataupun kesukaran, keduanya memiliki suatu pelajaran yang bisa kita petik, jika saja kita bisa lebih jernih melihatnya jauh ke dalam.
Kutulis ini untuk adikku yang sedang dalam kesusahan, semoga setelah kesusahan itu berakhir adikku yang bermental baja semakin tangguh dan juga bertambah arif dan bijaksana.
Langganan:
Postingan (Atom)
