Kamis, 23 April 2009

Hubungan Teraneh



Entah orang lain sependapat atau tidak, tapi bagi saya sendiri jika ada yang bertanya jenis hubungan apa yang teraneh antar sesama manusia di dunia ini, maka dengan pasti saya akan menjawab "Hubungan Suami Isteri", kenapa aneh... ya karena di dalamnya bisa terjadi segala sesuatu yang saling bertentangan, hubungan sepasang suami isteri yang harmonis bisa menjadi hubungan pribadi yang terdekat, tetapi begitu masalah datang banyak pasangan suami isteri berubah menjadi sepasang musuh.

Hubungan yang termurni bagi saya adalah hubungan Orang tua dan anak, bagi orangtua sampai kapanpun anak adalah orang teristimewa di hatinya, bagaimanapun kondisi si anak, kasih orang tua tidak pernah akan berubah.

Alangkah sayangnya jika ada anak yang demi sebuah hubungan rapuh bernama "suami isteri" mengorbankan hubungan paling berharga yang ia miliki yaitu hubungan dengan orangtuanya, namun sayang kadang "cinta" memang membuat buta, dan kenyataan selalu terlihat terlambat di belakang hari.

Tentu saja hubungan rapuh berlabel "suami isteri" tidak berarti harus selalu berakhir retak, banyak juga yang bisa bertahan sampai maut memisahkan bahkan kian lama terlihat kian berkilau, tapi saya nyakin dibalik semua itu ada restu orang tua yang menyertai.

Semoga jika kelak gadis kecilku dewasa dan memutuskan untuk menikah, dia cukup bijak untuk menyadari tentang hal ini. Menyadari bahwa pernikahan laksana perahu mengarungi lautan, banyak ombak dan badai, tak cukup bermodal sebuah bekal bernama "cinta".

Minggu, 05 April 2009

Pesimis, Optimis atau Realitis

Sebelum berangkat kerja pagi ini, aku menyempatkan diri melayat ke rumah seorang tetangga, Sang suami, Ayah dan Kepala Keluarga di rumah tersebut meninggal dunia di usia yang masih relatif muda 54 tahun, akibat sakit diabetes dan lever yang dideritanya.
Setiap hari di koran aku membaca iklan duka cita, di perjalanan ke kantor pagi ini aku juga mendengar berita duka cita di radio.

Di saat-saat hening seperti saat aku menulis kali ini, betapa aku menyadari kehidupan bagai berjalan melewati sebuah lorong, ada awal dan akan ada akhir, tapi kita sendiri tak pernah tahu masih panjangkah lorong yang akan kita lewati? atau kah kita sesungguhnya sudah begitu dekat dengan ujung lorong?

Kadang aku merasa kehidupanku sekali ini tidak berarti banyak, aku sama dengan kebanyakan manusia yang sibuk dengan kehidupannya sendiri, sehingga kehabisan waktu untuk berbuat sesuatu yang lebih berarti, untuk menjadi manusia yang lebih kaya secara bathin.

Segala yang aku lakukan terikat pada kewajiban dan tanggung jawab.
Aku bekerja karena harus memenuhi kebutuhan hidup aku dan keluargaku, aku juga harus bertanggung jawab untuk seorang anak yang sudah aku lahirkan, dan juga harus bertanggungjawab akan kehidupan berumah tangga yang sudah aku pilih.

Jauh di lubuk hati yang terdalam ingin aku melepaskan semua rutinitas ini, aku ingin hidup bebas, melakukan hal-hal yang aku sukai, berbuat sesuatu yang bukan sekedar untuk memenuhi kewajiban, tetapi lebih dikarenakan kehendakku sendiri, berbuat bukan hanya untuk aku dan keluargaku, tapi berbuat lebih untuk semua.
Aku ingin memanfaatkan sebaik mungkin kehidupanku sebagai manusia, sebelum waktuku habis.

Tapi lihat, beginilah aku saat ini, hanya duduk mengetik pada komputer, di atas sebuah kursi, di ruang sebuah kantor, tidak lebih dan tidak kurang, hingga sore menjelang pulang ke rumah, beres-beres rumah, menemani anak belajar, tidur, lalu esok hari, segera setelah bangun tidur aku kembali akan mengulang rutinitas yang sama seperti hari ini, begitu terus entah sampai kapan?

Jika itu rutinitas tubuhku, lalu bagaimana pikiranku, sama saja setiap hari cuma berpikir pekerjaan apa yang harus aku lakukan hari ini, sibuk berpikir bagaimana aku mempersiapkan keuangan untuk hari esok, untuk anakku, keluarga dan aku sendiri, semua sama persis dengan apa yang kebanyakan manusia lain pikirkan, sementara waktu terus berjalan dan aku masih belum berbuat apa-apa???

Dengan pemikirin seperti ini entah aku ini pesimis atau realistis ?
Mungkin sebaiknya aku menghibur diri, bukankah setidaknya kehidupanku ini, walau cuma untuk segelintir orang, masih memberi arti bagi mereka, dan juga bisa bersikap lebih optimis bahwa bukankah di atas segala rutinitasku, aku masih tetap punya kesempatan untuk berbuat lebih.