Jumat, 28 Agustus 2009

Mama darimu aku belajar banyak

Aku merasa kisah hidup Mama yang begitu penuh warna sepantasnya jika dicatat dalam sebuah biografi. Kebahagiaan masa kecil yang hampir tidak ia miliki, disambung dengan kehidupan remaja yang penuh kesulitan hingga kehidupan perkawinan yang jauh dari ideal, semua ia hadapi dengan sikap yang luar biasa.
Dipisahkan dari orang tua kandung oleh kakak kandungnya sendiri sejak masih bayi, di usia belia hidup susah sebagai seorang anak angkat yatim yang harus putus sekolah (Mama hanya sempat sekolah sampai SMP kelas 1 itupun tidak selesai), sehingga sudah harus bekerja untuk menghidupi diri sendiri, seorang Ibu angkat dan seorang adik angkat, tapi masih saja sering diperlakukan buruk oleh Ibu angkatnya,
Tapi ketabahan dan kesabaran Mamaku sungguh luar biasa,
Mama sama sekali tak menyimpan kemarahan apalagi dendam kepada kakak-kakak kandungnya juga kepada Ibu angkatnya, bahkan saat Ibu angkatnya sakit parah hingga akhirnya meninggal dunia, Mamalah yang dengan sabar merawat Ibu angkatnya itu dan setelah ibu angkatnya meninggal Mama tetap menerima dan merawat adik angkatnya, juga saat adik angkat Mama terjerumus narkoba Mama masih tetap menerima dan berusaha menolong adik angkatnya itu, padahal kelakuan adik angkat Mama waktu itu sangat menyusahkan sekali, (waktu itu aku sudah SMP jadi aku tahu betul bagaimana kacaunya situasi rumah kami akibat ulah Adik Angkat Mama)
Kehidupan perkawinan Mamapun tidak bisa dibilang membahagiakan, bercerai di usia muda dan kehilangan seorang anak di pernikahan pertamanya, lalu menjadi isteri kedua dalam pernikahan keduanya, tentu saja membuat Mama harus menanggung kesan buruk sebagai isteri kedua di mata masyarakat (walaupun pada kenyataannya Mama bukan isteri kedua yang tidak tahu diri), selama menikah dengan Mama bagaimanapun Papa lebih banyak menghabiskan waktu di luar kerjanya di rumah isteri pertama bahkan nyaris tidak pernah menginap di rumah kami, kecuali beberapa kali setelah Papa sakit parah sebelum akhirnya meninggal dunia, begitu juga secara materi kami jauh dari berkelimpahan bahkan cenderung hidup sangat sederhana.
Tapi Mama dengan sabarnya Mama menghadapi semua itu termasuk bersabar menghadapi rasa tidak suka dan prasangka buruk dari berbagai pihak, bahkan Mama meminta kami anak-anaknya menghormati Isteri pertama Papa dan juga kepada kakak-kakak lain Ibu.
Terhadap Kakak kandungnya pun Mama tidak marah atau menuntut apa-apa, ia merelakan apa yang sudah mereka lakukan terhadap dirinya sebagai bagian dari nasibnya.
Sekarang di hari tuanya aku berharap ini masa bagi Mama untuk lebih berbahagia dibandingkan Masa-masa lain dalam hidupnya, walaupun aku tahu sebagai manusia tak mungkin lepas dari penderitaan.
Dari kisah hidup Mama aku belajar tentang kesabaran, kasih dan pengampunan yang begitu luar biasa. Bagiku di atas semua kekurangannya Mama adalah teladan bagi kami anak-anaknya.

Rabu, 26 Agustus 2009

Memimpikan pemimpin yang bijaksana


Aku penah membaca sebuah buku tentang ciri-ciri seorang pemimpin sejati, seorang pemimpin yang bijaksana, salah satu ciri seorang pemimpin sejati yang paling kuingat dalam buku itu adalah yang menyebutkan bahwa seorang pemimpin sejati tidak terlihat sebagai seorang pemimpin, ia orang rendah hati yang tidak pernah menonjolkan diri, bahkan orang lain sering tak menyadari kepemimpinan si pemimpin bijaksana itu. Dia bukan si penguasa, tapi dialah si pembawa aura kedamaian dan keharmonisan, dialah "cahaya" dalam kehidupan orang-orang disekelilingnya.

Selama belasan tahun aku bermimpi menemukan pemimpin sejati seperti itu, dan mimpi itu masih tetap jadi mimpi hingga hari ini. Begitu langkakah keberadaan seorang pemimpin sejati seperti langkanya menemukan orang yang telah "tercerahkan", ataukah siapa aku juga yang menyebabkan diriku belum bisa menemukan "manusia-manusia" istimewa itu. Dapat diumpamakan seperti tidak mungkin seekor ikan menemukan sang raja hutan di dalam sebuah lautan.

Atau bisa juga karena aku mematok standar yang terlalu berlebihan dalam mencari seorang pemimpin, atau mungkinkah ini semata karena jauh di lubuk hatiku ada kesombongan halus yang menilai diriku lebih dari orang lain, mungkin aku harus mencari tahu dulu jawabannya dalam diriku sendiri, sebelum aku mencarinya pada diri orang lain.

Sepatutnya aku menyadari bahkan aku sendiri masih harus banyak belajar bahkan hanya untuk sekedar menjadi seorang Ibu yang lebih bijaksana.