Jumat, 08 Mei 2009

Hati - hati dengan Ambisimu

Aku kenal dia sejak kelas 4 SD, rumah orangtuanya yang cukup besar di daerah Rawamangun adalah "Cetya" tempat Mamaku kebaktian untuk pertama kalinya.
Usianya hanya 1 tahun di atasku.
Aku mulai mengenalnya lebih dekat setelah sama-sama duduk di bangku Sekolah Menengah Atas, waktu itu kami masih kebaktian bareng, sampai aku dan dia akhirnya berpisah karena dia bekerja di sebuah pabrik semen di Cibinong Bogor.
Sejak saat itu aku jarang sekali bertemu dengannya, kadang-kadang ia datang bertamu saat Tahun Baru atau kadang kami bertemu di acara-acara tertentu.
Hubungan kami mulai terbina lagi setelah jalan nasib mempertemukan aku kembali dengannya, waktu aku entah mengapa bisa pindah kerja ke daerah yang berdekatan dengan tempat Ia dan keluarganya tinggal.
Sebatas pengetahuanku sebagai laki-laki dia adalah laki-laki yang sederhana dan cenderung lembut, emosinyapun aku rasa lebih stabil dibanding denganku.
Seperti halnya dengan aku masa remaja dan masa mudanya nya berjalan penuh keprihatinan, semua semenjak Ayahnya yang sebelumnya menjadi tulang punggung keluarga kehilangan pekerjaan dan tidak pernah bangkit lagi hingga sekarang.
Sejak itu dialah tulang punggung di keluarganya.
Kehidupannya setelah berkeluarga memang sangat sederhana, mengingat dengan penghasilan terbatas ia harus menyokong dua keluarga, keluarga orangtuanya dan keluarganya sendiri atau mungkin juga keluarga isterinya???
Sepengetahuanku ia memang seorang yang sangat peduli dengan orangtua dan adik-adiknya.
Aku mengira sudah cukup mengenal dia, ternyata aku keliru, tak pernah terpikir olehku dia punya ambisi yang sangat besar, kini ia sedang terperosok ke dalam jurang penderitaan semua karena ambisinya. Ia jadi begitu nekad tanpa memperhitungkan resiko besar yang harus ia tanggung jika gagal.
Dan kini resiko itu benar-benar terjadi dan mengantarnya ke dalam jurang penderitaan yang dalam dan panjang, yang juga menyeret keluarganya.
Sebagai teman aku tak bisa berbuat banyak, kecuali memberi dukungan moril agar ia tetap kuat terus bertahan dan terus berjuang, semoga sekali ini aku tidak salah mengenalnya sebagai seorang bermental kuat. Bukankah hidup adalah ketidakkekalan? tiada suka maupun duka yang abadi.
Suatu hal yang aku rasa bisa jadi pelajaran baginya, bagiku dan bagi kita semua berhati-hatilah dengan ambisimu.. ambisi bukan hal yang dilarang, tapi tetaplah waspada dalam melangkah untuk memenuhi ambisimu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar