7 Juli 2014 sebuah awal baru kumulai, bukan langkah yang mudah tentu saja, bermigrasi dari kota besar dari ibukota dengan segala fasilitasnya ke kota kecil yang fasilitasnya terbatas, dari bekerja dengan penghasilan lebih dari cukup menjadi pengangguran tanpa penghasilan, dari terbiasa kemana -mana dengan menyetir mobil (walau cuma mobil pinjaman kantor ) sendiri, menjadi tak bisa kemana-mana tanpa diantar, karena kurang memadainya angkutan umum di kota ini, juga karena belum ku pahami seluk beluk jalan di kota ini.
Dari tinggal di rumah sendiri sejak menikah, saat ini justru terpaksa menumpang di rumah mertua, karena suami harus merawat orangtuanya yang sudah tua dan terkena kanker.
Kadang terlintas dalam pikiran sudah tepatkah keputusan yang ku ambil ini ? keputusan ini keputusan terberat yang pernah ku ambil walau di dukung banyak sahabat bahkan oleh mamaku sendiri, (mamaku yang dulu jelas jelas sempat menentang hubunganku dengan suami karena takut aku diajak ke Jambi.) dan juga telah kupertimbangkan masak-masak dan cukup lama, karena ketika kuambil keputusan ini, berarti kukorbankan banyak hal, kemapanan, kemandirian, juga kenyamanan tinggal di rumah sendiri.
Namun keputusan telah kuambil, seberat dan segetir apapun aku harus tetap melangkah, pantang menyerah, surut ke belakang, semua baru awal, perjalananku masih panjang, semoga semua berjalan dengan baik, keinginanku hanya sederhana saja kehidupan yang tentram dan bahagia bersama keluarga.
Biarlah semua ini menjadi pelajaran dan pengalaman hidup yang akan membuat aku lebih sabar, tabah dan bijaksana.
Satu peganganku, tiada kehidupan tanpa duka, tidak kehidupan yang tidak berubah, suka awal dari duka, duka awal dari suka, jadi kenapa harus tenggelam dalam duka dan mabuk dalam suka, sadar di kala suka dan duka adalah yang terbaik.
Kadang terlintas dalam pikiran sudah tepatkah keputusan yang ku ambil ini ? keputusan ini keputusan terberat yang pernah ku ambil walau di dukung banyak sahabat bahkan oleh mamaku sendiri, (mamaku yang dulu jelas jelas sempat menentang hubunganku dengan suami karena takut aku diajak ke Jambi.) dan juga telah kupertimbangkan masak-masak dan cukup lama, karena ketika kuambil keputusan ini, berarti kukorbankan banyak hal, kemapanan, kemandirian, juga kenyamanan tinggal di rumah sendiri.
Namun keputusan telah kuambil, seberat dan segetir apapun aku harus tetap melangkah, pantang menyerah, surut ke belakang, semua baru awal, perjalananku masih panjang, semoga semua berjalan dengan baik, keinginanku hanya sederhana saja kehidupan yang tentram dan bahagia bersama keluarga.
Biarlah semua ini menjadi pelajaran dan pengalaman hidup yang akan membuat aku lebih sabar, tabah dan bijaksana.
Satu peganganku, tiada kehidupan tanpa duka, tidak kehidupan yang tidak berubah, suka awal dari duka, duka awal dari suka, jadi kenapa harus tenggelam dalam duka dan mabuk dalam suka, sadar di kala suka dan duka adalah yang terbaik.
