Sabtu, 25 Juli 2009

Pelajaran di balik peristiwa

Kematian seorang rekan yang begitu mendadak belum lama ini memberiku beberapa pelajaran berharga, pertama aku merasa sebagian besar manusia tidak menyadari saat kematian tiba, mungkin ada beberapa manusia yang sadar bahwa kematian sudah begitu dekat dengan dirinya, tapi itupun rasanya terjadi hanya karena mereka telah menderita suatu penyakit berat sebelumnya.
Banyak manusia takut akan hari akhir, tanpa menyadari bahwa sebenarnya maut itu sendiri kerap datang tanpa disadari, sehingga bahkan besar kemungkinan kita sendiri tidak sempat untuk merasa takut saat maut itu datang pada kita.
Kedua semasa hidup mungkin banyak hal yang coba kita sembunyikan dari orang lain atau bahkan keluarga kita sendiri, tetapi saat ajal datang tiba tiba, tentu saja ia datang tanpa peringatan terlebih dahulu, sebagian dari rahasia itu memang lenyap bersama kematian, tetapi siapa duga jika banyak juga hal lain yang sewaktu hidup kita coba sembunyikan, saat kita mati malah menjadi terbuka jelas dan menunjukkan siapa diri kita sebenarnya.
Ketiga kematian selalu mendatangkan rasa duka, tapi sebagaimana kehidupan yang selalu berubah begitu juga rasa duka akan kematian, cepat atau lambat rasa duka itu akan hilang berubah menjadi sebuah kenangan, seperti juga dengan realita dimana disini kita berduka, sementara di tempat berbeda orang lain sedang berbahagia. Kematian mengakhiri kehidupan seseorang di dunia ini, tapi bagi mereka yang masih hidup, hidup akan terus berlanjut.

Keempat tentulah sebagai penghormatan pada almarhum, orang hanya membicarakan dan mengingat hal-hal baik tentang almarhum, tapi tak bisa dipungkiri bahwa jauh di dalam lubuk hati masing-masing, tersimpan penilaian seseorang yang sebenarnya tentang si almarhum.

Untuk itu haruskah kita masih saja kuatir dan takut akan kematian, bagiku sendiri mungkin bukan kematian yang menakutkan, tetapi proses yang akan aku alami sebelum menuju kematian yang aku kuatirkan dan bagaimana nilai akhir diriku dimata orang-orang yang pernah mengenal diriku, baik atau buruk? Untuk itulah aku berpikir aku harus meneguhkan kembali tekad di hati untuk selalu berupaya melakukan yang terbaik setiap hari, selama aku masih ada berada di dunia ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar