Aku merasa kisah hidup Mama yang begitu penuh warna sepantasnya jika dicatat dalam sebuah biografi. Kebahagiaan masa kecil yang hampir tidak ia miliki, disambung dengan kehidupan remaja yang penuh kesulitan hingga kehidupan perkawinan yang jauh dari ideal, semua ia hadapi dengan sikap yang luar biasa.
Dipisahkan dari orang tua kandung oleh kakak kandungnya sendiri sejak masih bayi, di usia belia hidup susah sebagai seorang anak angkat yatim yang harus putus sekolah (Mama hanya sempat sekolah sampai SMP kelas 1 itupun tidak selesai), sehingga sudah harus bekerja untuk menghidupi diri sendiri, seorang Ibu angkat dan seorang adik angkat, tapi masih saja sering diperlakukan buruk oleh Ibu angkatnya,
Tapi ketabahan dan kesabaran Mamaku sungguh luar biasa,
Mama sama sekali tak menyimpan kemarahan apalagi dendam kepada kakak-kakak kandungnya juga kepada Ibu angkatnya, bahkan saat Ibu angkatnya sakit parah hingga akhirnya meninggal dunia, Mamalah yang dengan sabar merawat Ibu angkatnya itu dan setelah ibu angkatnya meninggal Mama tetap menerima dan merawat adik angkatnya, juga saat adik angkat Mama terjerumus narkoba Mama masih tetap menerima dan berusaha menolong adik angkatnya itu, padahal kelakuan adik angkat Mama waktu itu sangat menyusahkan sekali, (waktu itu aku sudah SMP jadi aku tahu betul bagaimana kacaunya situasi rumah kami akibat ulah Adik Angkat Mama)
Kehidupan perkawinan Mamapun tidak bisa dibilang membahagiakan, bercerai di usia muda dan kehilangan seorang anak di pernikahan pertamanya, lalu menjadi isteri kedua dalam pernikahan keduanya, tentu saja membuat Mama harus menanggung kesan buruk sebagai isteri kedua di mata masyarakat (walaupun pada kenyataannya Mama bukan isteri kedua yang tidak tahu diri), selama menikah dengan Mama bagaimanapun Papa lebih banyak menghabiskan waktu di luar kerjanya di rumah isteri pertama bahkan nyaris tidak pernah menginap di rumah kami, kecuali beberapa kali setelah Papa sakit parah sebelum akhirnya meninggal dunia, begitu juga secara materi kami jauh dari berkelimpahan bahkan cenderung hidup sangat sederhana.
Tapi Mama dengan sabarnya Mama menghadapi semua itu termasuk bersabar menghadapi rasa tidak suka dan prasangka buruk dari berbagai pihak, bahkan Mama meminta kami anak-anaknya menghormati Isteri pertama Papa dan juga kepada kakak-kakak lain Ibu.
Terhadap Kakak kandungnya pun Mama tidak marah atau menuntut apa-apa, ia merelakan apa yang sudah mereka lakukan terhadap dirinya sebagai bagian dari nasibnya.
Sekarang di hari tuanya aku berharap ini masa bagi Mama untuk lebih berbahagia dibandingkan Masa-masa lain dalam hidupnya, walaupun aku tahu sebagai manusia tak mungkin lepas dari penderitaan.
Dari kisah hidup Mama aku belajar tentang kesabaran, kasih dan pengampunan yang begitu luar biasa. Bagiku di atas semua kekurangannya Mama adalah teladan bagi kami anak-anaknya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar