Senin, 25 Mei 2009

Menjadi lebih baikkah aku


Belakangan ini aku sering merenung apa saja yang sudah aku lakukan selama 38 tahun lebih masa hidupku (mungkin lebih tepat 23 tahun karena diusia 0-15 tahun aku hanya menjalani hidup apa adanya), aku menilai ada beberapa sifat buruk yang mulai bisa aku ubah/kendalikan, dahulu jika aku marah pada seseorang aku akan menyimpan kemarahan dan rasa tidak sukaku kepada orang itu untuk selamanya, dulu jika aku menghadapi suatu masalah, aku akan terus memikirkan masalah itu hingga susah tidur, dulu jika aku berbicara aku akan berbicara apa adanya tanpa memperhatikan kemungkinan orang marah/tersinggung pada ucapanku, dulu jika aku mendengar orang berbicara berbisik-bisik di dekatku, aku menjadi kesal dan merasa orang itu membicarakan kejelekanku, dulu jika aku menginginkan sesuatu aku kadang memperalat adik atau teman untuk kepentinganku, sekarang semua itu sudah mulai bisa aku perbaiki/kendalikan, aku belajar untuk tak lagi menyimpan kemarahan terlalu lama di hatiku, aku mulai jarang tidak bisa tidur karena memikirkan suatu masalah, aku juga terus belajar mengawasi ucapan yang keluar dari mulutku agar orang tak tersinggung oleh ucapanku, aku tak lagi berpikir buruk jika ada orang berbisik2 didekatku, akupun tak berniat lagi memperalat adik/teman untuk kepentinganku sendiri.( Entah dengan penilaian orang lain apakah penilaian mereka tentang aku sama seperti penilaianku akan diriku sendiri?, semoga saja aku tak seperti pepatah yang mengatakan semut diseberang lautan kelihatan, gajah dipelupuk mata tak nampak).
Tapi aku tahu masih banyak hal buruk dalam diriku yang masih harus aku perbaiki/kendalikan, bathinku masih tidak seimbang seperti layang-layang putus tali yang terbawa angin, masih mudah lepas kendali kesabaran dan kesadaran terutama untuk beberapa kondisi tertentu.
Mungkin tidaklah mudah upaya untuk membuat bathinku lebih tenang, lebih stabil, tapi seharusnya karena sudah ada yang telah berhasil aku perbaiki/kendalikan , mestinya aku bisa perbaiki diriku lebih banyak lagi, tidak mudah tapi bukan tidak mungkin.

Jumat, 08 Mei 2009

Hati - hati dengan Ambisimu

Aku kenal dia sejak kelas 4 SD, rumah orangtuanya yang cukup besar di daerah Rawamangun adalah "Cetya" tempat Mamaku kebaktian untuk pertama kalinya.
Usianya hanya 1 tahun di atasku.
Aku mulai mengenalnya lebih dekat setelah sama-sama duduk di bangku Sekolah Menengah Atas, waktu itu kami masih kebaktian bareng, sampai aku dan dia akhirnya berpisah karena dia bekerja di sebuah pabrik semen di Cibinong Bogor.
Sejak saat itu aku jarang sekali bertemu dengannya, kadang-kadang ia datang bertamu saat Tahun Baru atau kadang kami bertemu di acara-acara tertentu.
Hubungan kami mulai terbina lagi setelah jalan nasib mempertemukan aku kembali dengannya, waktu aku entah mengapa bisa pindah kerja ke daerah yang berdekatan dengan tempat Ia dan keluarganya tinggal.
Sebatas pengetahuanku sebagai laki-laki dia adalah laki-laki yang sederhana dan cenderung lembut, emosinyapun aku rasa lebih stabil dibanding denganku.
Seperti halnya dengan aku masa remaja dan masa mudanya nya berjalan penuh keprihatinan, semua semenjak Ayahnya yang sebelumnya menjadi tulang punggung keluarga kehilangan pekerjaan dan tidak pernah bangkit lagi hingga sekarang.
Sejak itu dialah tulang punggung di keluarganya.
Kehidupannya setelah berkeluarga memang sangat sederhana, mengingat dengan penghasilan terbatas ia harus menyokong dua keluarga, keluarga orangtuanya dan keluarganya sendiri atau mungkin juga keluarga isterinya???
Sepengetahuanku ia memang seorang yang sangat peduli dengan orangtua dan adik-adiknya.
Aku mengira sudah cukup mengenal dia, ternyata aku keliru, tak pernah terpikir olehku dia punya ambisi yang sangat besar, kini ia sedang terperosok ke dalam jurang penderitaan semua karena ambisinya. Ia jadi begitu nekad tanpa memperhitungkan resiko besar yang harus ia tanggung jika gagal.
Dan kini resiko itu benar-benar terjadi dan mengantarnya ke dalam jurang penderitaan yang dalam dan panjang, yang juga menyeret keluarganya.
Sebagai teman aku tak bisa berbuat banyak, kecuali memberi dukungan moril agar ia tetap kuat terus bertahan dan terus berjuang, semoga sekali ini aku tidak salah mengenalnya sebagai seorang bermental kuat. Bukankah hidup adalah ketidakkekalan? tiada suka maupun duka yang abadi.
Suatu hal yang aku rasa bisa jadi pelajaran baginya, bagiku dan bagi kita semua berhati-hatilah dengan ambisimu.. ambisi bukan hal yang dilarang, tapi tetaplah waspada dalam melangkah untuk memenuhi ambisimu.

Kamis, 07 Mei 2009

Buddhis = Atheis ??


Baru saja baca detik.com kebetulan ada salah satu tampilan detikblog terbaru yang artikelnya bikin penasaran karena berjudul "Atheis sebuah pilihan?" lagi sempat PLUS udah cape dan bosen benar seharian pakai excel kutak-katik kerjaan kantor, aku sempatin masuk ke blog itu.
Loh koh.... aku jadi tertegun dan bathin membacanya...

Mau tahu apa yang ditulis blog itu ?
Walau pengetahuanku akan Buddha Dhamma belum seberapa tapi untuk kalimat itu aku tahu betul kalau itu adalah petikan syair dalam "Kalama Sutta" salah satu bagian dari Sutta dalam kitab suci Agama Buddha Tripitaka.
(soalnya itu Dhamma yang pertama kali bikin aku tertarik pada Buddha Dhamma)

syair itu dengan telak dianggap penulis dan pengomentar sebagai pola pikir "Atheisme", entah apa mereka tahu kalau itu bagian dari kitab sucinya Buddhis, atau tidak?? Yang aku tahu memang banyak umat Non Buddhis yang menganggap Buddhis = Atheis.

Hanya saja menurutku sebenarnya kurang tepat jika syair itu dijadikan "cermin pemikiran Atheis", karena syair itu diucapkan Buddha Gotama untuk menjawab pertanyaan suku Kalama yang sedang dalam kebingungan karena berbagai ajaran yang ada pada masa itu semua mengklaim diri sebagai ajaran yang paling baik dan yang paling benar?
(tidakkah apa yang terjadi di suku Kalama itu sama dengan yang terjadi sekarang?)

Kenyataan yang ada memang sampai saat ini pun apa yang terjadi pada Suku Kalama, masih exis hingga hari ini, banyak agama MENGKLAIM kebenaran kitab sucinya, sementara banyak Kitab Suci menyatakan ajaran mereka satu-satunya ajaran yang benar? dan dengan megatasnamakan Tuhan menuntut pemeluknya untuk menyakini tanpa keraguan sedikitpun, Lalu jadi yang mana sebenarnya benar???

Bagiku agama bisa membuat orang jadi baik, tetapi orang baik bukan hanya milik satu Agama saja.