Sebenarnya aku ini suka menulis, tapi mungkin bukan menulis dalam bentuk karangan panjang yang membutuhkan ribuan kata atau bahkan kalimat, kemampuan menulisku sebatas karangan-karangan pendek dan puisi.
Sejak duduk di SD aku sudah bisa mengarang puisi dan cukup pandai jika diminta membuat pantun. Aku ingat ada sebuah puisi berjudul "Ayah" yang sempat aku buat (tapi aku tidak ingat lagi isi puisi itu sekarang) dan sempat juga aku bacakan sendiri di hadapan teman-teman Sekolah Mingguku, sebuah puisi yang membuatku menangis, sebuah puisi yang mencerminkan isi hatiku yang rindu kehangatan seorang ayah, sesuatu yang tidak aku rasakan saat itu.
Menulis adalah terapi jiwa bagiku, melalui menulis aku menemukan sedikit kelegaan, sedikit pengurang beban di hati, tapi terapi ini sayangnya tidak berefek sama sekali untuk yang satu ini,
Sebagai manusia aku sangat menyadari siapa diriku. Aku cukup tahu apa yang menjadi kelemahanku, semua penyakit hati yang ada pada dirku, di antara banyak penyakit hati yang aku idap, kecemasan adalah penyakit hatiku yang terbesar, di dalam banyak hal aku mudah menjadi cemas. Sedikit masalah sudah bisa membuatku cemas, dan parahnya kecemasan itu tidak akan berakhir sebelum masalah itu selesai. Satu masalah selesai masalah lain muncul, akibatnya aku pun bisa dibilang selalu dalam kecemasan.
Walau tahu kecemasan adalah suatu yang bodoh dan sia-sia herannya aku masih saja dijerat kecemasan, sangat sulit bagiku berjuang memerangi penyakit hati yang satu ini, saat kecemasan datang aku menyadarinya tapi tidak berdaya untuk mengusirnya pergi.
Tapi aku sadar aku memang harus memerangi penyakit ini, jika tidak selamanya hidupku jauh dari ketenangan.
