Kamis, 10 Juli 2014
Saat Jarak Memisahkan
Sejak menikah saya menjalani kehidupan rumah tangga yang dijalani pasangan suami isteri pada umumnya, tinggal bersama sehari-harinya, kalaupun kadang harus terpisah tidak untuk jangka waktu lama paling lama seminggu saja, tapi sejak tiga tahun terakhir ini, keadaan berubah, karena suatu pertimbangan suami memutuskan tinggal sementara di Jambi untuk membantu usaha kakak iparnya sambil belajar, mengingat selama ini ia hanya menjalankan usaha MLM saja, bulan berikutnya ia balik ke sini selama satu bulan, lalu berangkat lagi ke sana.
Saat pertama kali ia mengemukakan rencana itu dan meminta persetujuan saya, saya mendukung penuh rencananya itu, walau dia sendiri nampak tidak terlalu nyakin, saya kuatir jika saya keberatan atas rencana nya, suatu ketika ia akan menyesalkan saya.
Jadi saya nyakinkan diri saya bahwa tanpa keberadaan suami di dekat saya, semua akan berjalan baik-baik saja. Selama ini juga saya bukan jenis isteri manja yang bergantung penuh pada suami, pola asuh masa kecil membentuk saya jadi perempuan yang mandiri, cuma ada dua pekerjaan rumah yang sedikit saya kuatirkan adalah urusan galon air minum dan saat gas habis dan harus diganti...karena selama ini 2 hal itu selalu dikerjakan oleh suami.
Suami saya type laki-laki yang mau mengerjakan pekerjaan rumah kecuali memasak, bahkan ia cenderung lebih detail dan cerewet dibanding saya, jadi saat dia tidak ada saya lumayan lebih kerepotan dan kelelahan karena tidak ada yang membantu, tapi juga lebih bebas dari kritikan dan kecerewetannya.
Bulan pertama ia berada jauh saya jujur saja tidak terlalu merasa kehilangan, mungkin kesibukan membuat saya tak sempat memikirkan hal hal di luar pekerjaan, mungkin juga karena jauh di lubuk hati sebenarnya saya suka juga ia jauh dari saya karena sering sifat cerewet dan pemarahnya membuat saya jengkel dan merasa sangat tidak nyaman berada di dekatnya, walaupun masih ada sedikit rasa kehilangan karena di luar sifat cerewet dan pemarahnya, ia termasuk sangat perhatian walau kemudian ia lalu menuntut hal yang sama dari saya yang menurutnya kurang perhatian.
Setelah sebulan terpisah ia kembali, selama sebulan di sini ia menjadi lebih menyenangkan karena sifat cerewet dan pemarahnya jarang muncul, hubungan saya dan dia menjadi lebih baik, rasa tak nyaman saat bersamanya berkurang banyak, rasanya seperti kembali ke masa-masa sebelum kami menikah.
Akibatnya perpisahan kedua kalinya jadi lebih berat buat saya, memikirkannya saja membuat saya merasa agak sedih, tapi dasar dia type pemarah malam terakhir sebelum kembali ke Jambi amarahnya keluar lagi hanya karena masalah yang amat sepele, masalah barang murah yang hilang.
Saat itu dalam hati saya membathin kok di malam yang seharusnya berkesan manis, dia malah berlaku seperti itu, tapi saya lalu menghibur diri bagus juga sikapnya begitu jadi saya takkan jadi berat melepasnya, esok paginya saat saya berangkat kerja dan itu artinya saya takkan bersama dia lagi buat waktu yang lama, ia meminta maaf dan nampak sangat menyesali kelakuannya semalam.
Tetapi ada satu hal positif yang saya dapat dari hubungan jarak jauh ini, komunikasi antara kami yang dulu saat masih bersama sangat kurang terutama secara kualitas, kini justru saat jarak memisahkan malah lebih berkualitas walau kuatitasnya berkurang.
Saya tak tahu apa yang akan kami jalani kelak, hanya bisa berharap semoga kehidupan dan hubungan kami menjadi kian membaik.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar