Secara pribadi aku tak begitu mengenalnya, ia kukenal hanya karena posisinya sebagai isteri dari seorang teman. Jadi jujur saja aku tak tahu seperti apa dia, semasa gadis ia beragama sama dengan agama yang dianut orang tuanya, entah apakah semasa itu dia benar-benar menjalankan ajaran agamanya, setengah-setengah atau bahkan tidak sama sekali aku tak tahu itu. Beberapa saat sebelum menikah ia menganti agamanya menjadi agama yang sama dengan agama calon suaminya. Ganti agama? bukan itu topik yang ingin kusampaikan dalam tulisan ini. Ganti agama kurasa sudah menjadi hal yang biasa terjadi, dan tak perlu diributkan lagi, itu adalah hak setiap orang. Masalahnya aku terkaget-kaget waktu suatu ketika mendengar secara langsung teman isteriku itu menyatakan sesuatu yang pada intinya menyatakan bahwa umat pemeluk agama dari agamanya sebelum menikah adalah pemeluk agama yang salah. Oala Tuhan begitu dashyatkah suatu agama mengubah pola pikir seseorang. Aku kebetulan bukan pemeluk agama ia sebelum dan sesudah menikah, jadi aku berada dalam posisi netral, tapi jujur aku merasa sangat kaget waktu mendengar hal itu. Atau mungkin juga sebenarnya aku tidak dalam posisi netral bukankah dengan berkata seperti itu secara tidak langsung ia mengklaim agamanya sekarang adalah agama yang paling benar dan sudah tentu itu berarti juga ia menilai (pendapatnya sendiri atau memang agamanya mengajarkan seperti itu ??) agama lain adalah sesat.... (bukankah itu berarti agamaku juga termasuk ya)? Kejadian itu sekali lagi membuatku berpikir haruskah iman membuat kita tak lagi harus mencerna dengan logika, apakah iman memang tidak boleh diselaraskan dengan logika?
Satu lagi orang yang sangat kukenal, yang semula berpikir kebenaran adalah universal bukan milik suatu agama saja, setelah terlibat lebih dalam dengan ajaran agamanya, berubah menjadi kebanyakan penganut agama itu yang hanya mengakui kebenaran agamanya saja dan menyangkal kebenaran ajaran agama lain.
Sering aku berpikir, bukankah seorang ibu akan menyayangi semua anaknya seperti apapun anaknya itu, lalu kenapa Engkau yang katanya Maha segalanya malah seperti itu?
Selasa, 15 November 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar