Kematian seorang rekan yang begitu mendadak belum lama ini memberiku beberapa pelajaran berharga, pertama aku merasa sebagian besar manusia tidak menyadari saat kematian tiba, mungkin ada beberapa manusia yang sadar bahwa kematian sudah begitu dekat dengan dirinya, tapi itupun rasanya terjadi hanya karena mereka telah menderita suatu penyakit berat sebelumnya.
Banyak manusia takut akan hari akhir, tanpa menyadari bahwa sebenarnya maut itu sendiri kerap datang tanpa disadari, sehingga bahkan besar kemungkinan kita sendiri tidak sempat untuk merasa takut saat maut itu datang pada kita.
Kedua semasa hidup mungkin banyak hal yang coba kita sembunyikan dari orang lain atau bahkan keluarga kita sendiri, tetapi saat ajal datang tiba tiba, tentu saja ia datang tanpa peringatan terlebih dahulu, sebagian dari rahasia itu memang lenyap bersama kematian, tetapi siapa duga jika banyak juga hal lain yang sewaktu hidup kita coba sembunyikan, saat kita mati malah menjadi terbuka jelas dan menunjukkan siapa diri kita sebenarnya.
Ketiga kematian selalu mendatangkan rasa duka, tapi sebagaimana kehidupan yang selalu berubah begitu juga rasa duka akan kematian, cepat atau lambat rasa duka itu akan hilang berubah menjadi sebuah kenangan, seperti juga dengan realita dimana disini kita berduka, sementara di tempat berbeda orang lain sedang berbahagia. Kematian mengakhiri kehidupan seseorang di dunia ini, tapi bagi mereka yang masih hidup, hidup akan terus berlanjut.
Keempat tentulah sebagai penghormatan pada almarhum, orang hanya membicarakan dan mengingat hal-hal baik tentang almarhum, tapi tak bisa dipungkiri bahwa jauh di dalam lubuk hati masing-masing, tersimpan penilaian seseorang yang sebenarnya tentang si almarhum.
Untuk itu haruskah kita masih saja kuatir dan takut akan kematian, bagiku sendiri mungkin bukan kematian yang menakutkan, tetapi proses yang akan aku alami sebelum menuju kematian yang aku kuatirkan dan bagaimana nilai akhir diriku dimata orang-orang yang pernah mengenal diriku, baik atau buruk? Untuk itulah aku berpikir aku harus meneguhkan kembali tekad di hati untuk selalu berupaya melakukan yang terbaik setiap hari, selama aku masih ada berada di dunia ini.
Sabtu, 25 Juli 2009
Selasa, 21 Juli 2009
Selamat Jalan Pak....

17 Juli 2009 sebuah bom meledak di Hotel Ritzs Carlton dan sebuah lagi di Hotel JV Marriot Mega Kuningan Jakarta, tak hanya meluluh lantakkan bangunan kedua hotel itu, tapi bom itu juga ikut meluluh lantakkan hati banyak orang yang kehilangan anggota keluarganya yang meninggal akibat bom tersebut, sepanjang hari itu berita seputar kejadian itu menjadi tema berita di semua stasiun tv, bahkan beberapa teman di kantorku ikut menyempatkan diri melihat berita itu di tv kantor, di antara adalah Pak Manahan Simatupang beliau HRD & GA Manager di kantorku. Tiada yang menyangka bahwa di hari itu juga sebuah bom yang lain akan meluluhlantakkan hati sebagian besar keluaga besar kantorku, hari itu sore menjelang malam kami kehilangan seorang rekan, Pak Manahan Simatupang, kematiannya yang begitu mendadak dan diluar perkiraan mengagetkan kami semua, padahal hari itu beliau terlihat begitu sehat dan ceria, siapa menyangka hari itu hari terakhir kami bertemu beliau, ia meninggal di usia yang masih relatif muda 46 tahun (beberapa hari lagi adalah HUTnya ke 46) dengan dua putri yang masih duduk di kelas 1,3 SD, jika kepergiannya sebagai seorang teman kerja sanggup membuat kami semua merasakan kesedihan yang mendalam, tak terbayang olehku betapa berat kepedihan dan rasa kehilangan yang dialami keluarganya, terutama Isteri dan Anaknya, apalagi isterinya hanya seorang Ibu Rumah Tangga.
Sebagai rekan kerja tentu saja hubungan kerjaku dengan beliau tidak selalu mulus, kadang ada sedikit perselisihan paham di antara kami, tapi syukurlah aku dan beliau bisa saling mengerti walaupun kami berselisih paham karena urusan pekerjaan, tapi secara pribadi hubungan kami berdua tetap terjalin dengan cukup baik, walau tidak juga terlalu dekat, aku dan beliau sering saling mengoda, aku pun kadang meminta advisenya atas suatu masalah.
Kini beliau tidak mungkin bisa bersama kami lagi, aku hanya bisa berdoa semoga beliau berbahagia di rumah barunya, semoga Isterinya diberi kekuatan dan rejeki baru untuk menjalani hidup tanpa kehadiran beliau.
Jika saja aku tahu hari itu hari terakhir beliau tentu aku akan melakukan hal terbaik yang bisa aku lakukan untuk beliau, tapi sayang sekali tak seorang manusiapun tahu tentang ajal, sungguh hidup adalah ketidak pastian hanya kematian yang pasti.
Pak Manahan selamat jalan, berbahagialah di kehidupan barumu, semoga jika karma mempertemukan kita kembali di kehidupan berikut hubungan kita berdua bisa lebih baik dari sekarang.
Semua kejadian ini, membuatku berpikir sebaiknya kita memang harus berbuat sebaik mungkin sepanjang hari, agar jika saat itu tiba tiada penyesalan baik untuk yang ditinggal maupun yang ditinggalkan.
Langganan:
Postingan (Atom)
