Jumat, 13 Januari 2012

Kegundahan masa kecil, kecemasan saat dewasa

Aku memiliki masa kecil yang jauh dari ideal, lahir sebagai anak kedua yang lalu jadi anak pertama Ibuku (karena anak pertama Ibuku meninggal di usia bayi), tapi anak nomor kesekian dari ayahku (ayahku punya 2 orang isteri), maka aku menanggung tanggung jawab lebih sebagai anak pertama, tetapi tidak memiliki keistimewaan perhatian dan kasih sayang sebagai anak pertama. Aku besar dalam kondisi Ibu sebagai isteri kedua, ditambah keberadaan Nenek (Ibu dari Ibuku yang otoriter dan galak) dan sedikitnya waktu ayah dirumahku.
Sisi baiknya kondisi seperti itu membentuk aku menjadi anak yang lebih cepat dewasa secara pemikirin dibanding anak-anak lain seusiaku, tapi sisi negatifnya, entah apakah memang sudah kepribadianku atau pengaruh dari semua itu, aku menjadi anak yang pemikir, terlalu peka dan pencemas.
Akibatnya aku kurang bisa  menikmati hari, karena selalu saja gelisah  dan cemas.
Ketidakdekatanku dengan orangtua di masa kecil juga membuatku menjadi orang yang mandiri, hampir semua masalah  kuhadapi sendiri, tak pernah kubicarakan dengan orangtua atau adik-adik.
Bahkan setelah menikahpun aku juga lebih sering menyimpan sendiri semua kegundahan hati, terlebih lagi menurutku suamiku bukan orang type yang enak buat di ajak curhat.
Jadi kalau sekarang aku memutuskan hanya memiliki satu anak saja, lalu orang bilang kasihan nanti anakku tak punya saudara untuk berbagi jika punya masalah, hal itu tentu saja tak membuatku bergeming.
Kadang jika aku sedang memperhatikan anakku bermain dan tertawa dengan riangnya, dalam hati aku berkata, anakku kamu sungguh lebih jauh beruntung dibanding Mamamu, rasanya sewaktu kecil jarang sekali aku bisa begitu bahagia dan tertawa lepas seperti dirimu.