
Entah seperti apa orang lain menilai kepribadianku dan seperti apa aku di mata mereka, yang jelas aku merasa aku lah yang paling tahu tentang diriku sendiri, walau yang sebenar-benarnya kenyataan aku sendiri sering tak mengerti kenapa aku yang merasa paling paham pada diriku sendiri, kerap tak bisa mengatur suasana hatiku sendiri, bahkan aku pun menjalani kehidupan yang sesungguhnya sebagian besar tak sesuai dengan keinginanku.
Seperti riak gelombang di lautan itulah diriku, hanya riak itu mungkin tak terlalu tampak di permukaan tetapi lebih bermain di kedalaman. Riak gelombang yang tak kuasa kukendalikan apalagi kehentikan. Andai saja riak itu bagai irama lagu yang memberi rasa kegembiraan riak itu kan kurangkul dengan ikhlas, sayangnya riak itu sungguh amat mengganggu, membuatku selalu merasa lelah, hingga nyaris membuatku merasa jenuh dan berharap bisa mengakhiri semua itu.
Tetapi aku kira aku tak akan bisa menghilangkan riak gelombang itu dalam kehidupanku sekarang, yang masih mungkin berhasil adalah usahaku untuk mengurangi riak-riak itu dari hatiku, dengan selalu berusaha hidup dalam kebaikan walaupun tak jarang meleceng terpengaruh riak-riak gelombang itu, seperti perahu hanyut terbawa ombak, berjuang meredakan riak gelombang sedikit demi sedikit dari satu kehidupan ke kehidupan lain, hingga kelak di suatu kehidupan riak itu akan benar-benar lenyap selamanya.
Suatu masa ketika segala sesuatu menjadi jernih dan jelas sejelas jelasnya, saat kedamaian tak perlu lagi kucari, ketika kedamaian adalah aku dan aku adalah kedamaian.
