Seharusnya malam itu kejadian memalukan seperti itu tidak terjadi, jarang sekali amarahku meledak begitu rupa, seingatku sepanjang usiaku hal itu hanya 3x terjadi, dan ini yang terburuk bagiku dan sedihnya mengapa ketiganya dipicu oleh orang-orang terdekat dalam hidupku. Walau dari luar terlihat acuh dan tak hangat, sesungguhnya aku orang yang cukup peka, sedikit kesalahan cukup membuatku berpikir dan sebisa mungkin aku mencoba untuk tak mengulang kesalahan dan kebodohan yang sama untuk kedua kalinya, walau kadang tidak selalu berhasil. Akupun belajar dari pengalaman masa lalu, enggan untuk larut dalam kemarahan yang panjang, terlebih lagi dengan orang-orang terdekat di kehidupanku, tanpa kemarahanpun rasa letih ini sudah terasa begitu dalam, maka aku lebih memilih mengalah dan rela merendahkan diri demi sebuah kedamaian, aku sungguh tak mau meledak dalam kemarahan, bagiku itu suatu hal yang amat memalukan, membuatku merasa gagal sebagai manusia, tapi malam itu "ledakan" itu muncul tak tertahankan, ia pecah bagai sebuah bom, selama beberapa detik kesadaranku benar-benar hilang, walau setelah itu aku secepatnya berusaha untuk menata kembali kesadaran diriku. Tapi kenangan buruk yang ditimbulkan akibat kehilangan kesadaran selama beberapa saat itu, aku tahu tetap akan membekas selamanya dalam diriku. Salah siapakah semua ini? Aku yang lemah atau salah sipemicu semua ini?
Tapi setidaknya dari kejadian ini ada jadi tahu seperti apa kualitas diriku yang sebenarnya, setidaknya aku bersyukur dalam amarahpun aku masih bisa menjaga ucapanku dalam batas-batas yang tak menyakiti hati pihak lain.
Dan api itupun bisa cepat kupadamkan habis tanpa meninggalkan sisa setelahnya.
Aku sungguh sudah tak marah lagi, mungkin yang masih tersisa adalah rasa sesal dan kecewa, yang sekarang masih belum bisa kuhilangkan, tapi suatu hari kelak akan kucoba untuk juga menghapusnya dari hati ini.
