
Ada sebuah lagu yang sangat terkesan di hatiku,
Lama t'lah ku mencari,
berkelana kian kemari
dimana gerangan dikau duhai bahagia
aku bersukaria bertamasya ke taman sari
bahagia sekejap mata hanya bagai mimpi
aku mohon para dewa-dewi
masuk ke candi menjunjung jari
tetapi hanyalah hampa
surga tak dapat dibeli
sekarang ku mengerti
bahagia di dalam hati
dimana sang napsu lenyap
disana bahagia..
akupun sering bertanya bila aku bahagia, apa arti kebahagian buatku...?
Moment-moment penting dalam hidup seperti menikah, menjadi seorang ibu, bercengkrama bersama keluarga, mungkin membahagiakan, tapi aku merasa bukan sebatas itu kebahagiaan yang kudamba, aku haus kebahagian yang lebih personal, yang lebih dekat dengan diriku sendiri, kebahagian mutlak tanpa pengaruh keberadaaan pihak luar.
Hingga pada suatu titik aku menyadari kebahagian yang aku damba itu begitu sederhana, namun sayangnya sangat sulit kudapatkan, ritual hidup keseharian yang
padat kesibukan membuat aku kehilangan waktu untuk meraih kebahagiaan itu, mengapa ?
Karena Bahagia yang kucari itu ternyata bukan kesenangan penuh tawa, bukan rasa hati yang mengelora, bukan juga kepuasan yang membuncah, kebahagiaan ku ada dalam kedamaian jiwa, kedamaian jiwa dalam kesendirian, keheningan, saat diriku menyatu dengan alam, menyatu dengan diriku sendiri, tidak berpikir, tidak menganalisa, yang ada hanya diam, hanya hening dalam diri, selaras dengan keheningan alam.
Itulah sesungguhnya kebahagian yang selalu kurindu, kedamaian jiwa yang hingga hari ini masih sulit kuraih.

